Breaking News

8 Dec 2016

Sikap Patuh Bung Tomo Terhadap Kiai Hasyim Asy’ari, Tolak Perjanjian Linggarjati

Ditulis oleh Yogi Prayogo

Berawal dari misi AFNEI yang ingin membebaskan tawanan perang akan tetapi justru ditunggangi oleh NICA, membuat rakyat Indonesia mengangkat senjata. Pada tanggal 13 oktober 1945 tepatnya di hotel jalan bali, medan. Salah satu pasukan NICA merampas lencana salah satu pemuda Indonesia dan menginjak nya. Hal ini mengundang kemarahan pemuda Indonesia yang berakibat pada pengerusakan dan penyerangan terhadap hotel yang banyak dihuni oleh pasaukan NICA.

Pada tanggal 1 desember 1945 pasukan inggris dan NICA melakukan pembersihan terhadap segala sesuatu yang mempunyai unsur Republik. Bahkan pada tanggal 24 maret 1946 terjadi pembakaran rumah penduduk yang bertujuan untuk menghalangi pasukan NICA yang hendak membuat markas.

Pada tanggal 10 Februari 1946 dalam kabinet Sjahrir I, Van Mook menginginkan negara persemakmuran yang nantinya Indonesia menjadi bagian dari belanda, akan tetapi pada kabinet Sjahrir II terdapat usulan yang bertentangan dengan Van Mook usulan nya adalah RI diakui sebagai negara berdaulat meliputi bekas Hindia belanda dan antara RI dan Belanda dibentuk Federasi. Maka dari itu dibuatlah suatu perundingan yang berisi rancangan persetujuan diberikan bentuk sebagai Perjanjian Indonesia Internasional dengan “preambule” dan pemerintah belanda mengakui kekuasaan de Facto republik atas pulau Jawa dan Sumatera

Berita tentang perundingan sampai ketelinga Kiai Hasyim akan sikap kompromi Sjahrir dengan sekutu yang membuat Kiai Hasyim bergegas menuju kantor NU Surabaya. Sesampainya di Surabaya sudah berkumpul tokoh dari berbagai kalangan seperti Bung Tomo, Wahid Hasyim, Mas Mansyur, Soedirman, Kahar Moezakkar, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan masih banyak lagi yang lain. “Bagaimana Kiai, Tuan Syahrir telah membuat keputusan sendiri?” tanya Bung Tomo kepada Kiai Hasyim yang hanya diam saja dan tidak memberi jawaban.

Bung Tomo melihat pemerintah tidak yakin dengan kekuatan sendiri yang memang kesalahan pertama ada di Bung Karno dan dianggap telah berkhianat terhadap hati nurani rakyat.
Tak lama kemudian Kiai hasyim mengakhiri pertemuan itu dengan kalimat yang mengejutkan. “Tampaknya kita sudah bersepakat untuk mempertahankan kemerdekaan republic ini dengan menempuh jalan sendiri-sendiri.” Itu saja yang diucapkan oleh Kiai Hasyim.

Pada pertengahan tahun 1946 digelar muktamar Masyumi yang bertempat disana Kiai Hasyim mengemukakan bahwasanya beliau mempertegas untuk mempertahankan republik dengan jalan sendiri. Tidak ada kompromi terhadap sekutu yang mencari kepentingan dengan menindas orang-orang pribumi. “Kedaulatan dan harga diri adalah milik kita bersama bukan hanya milik pemerintah.” Tutur Kiai Hasyim. Dalam kesempatan itu pula beliau menyampaikan amanat bahwa politik bagi umat islam sesungguhnya mempunyai 3 Tujuan, Yaitu: mewujudkan persamaan bagi setiap muslim, melayani kepentingan masyarakat, dan mewujudkan keadilan yang merata.

Kemudian tibalah hari-hari yang ditunggiu itu, perundingan Linggarjati pada tanggal 23 Maret 1947, setelah dua hari berunding akhirnya diambillah keputusan pada tanggal 25 Maret 1947. Hasil perundingan terdiri dari 17 pasal yang antara lain berisi: 1. Belanda mengakui secara De Facto wilayah Republik Indonesia, yaitu Jawa, Sumatera dan Madura, 2.Belanda harus meninggalkan wilayah RI paling lambat tanggal 1 Januari 1949, 3. Pihal Belanda dan Indonesia sepakat membentuk negara RIS. Dalam bentuk RIS Indonesia harus tergabung dalam Commonwealth/Persemakmuran Indonesia-Belanda.

Diluar sana, pada hari itu juga, hasil perjanjian yang sudah disepakati di Linggarjati dimaklumatkan, dan kembali mendapat kecaman dari berbagai pihak,Terutama Masyumi pimpinan Kiai Hasyim Asy’ari bahkan PNI, Partai Rakyat Indonesia, dan Partai Rakyat Jelata. Mereka menilai perjanjian itu sebagai bukti lemahnya pemerintahan Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan negara. “Sontoloyo, tuan Syahrir sudah menjadi kaki tangan Belanda.” Umpat Bung Tomo. Dengan begini msih harus berjuang termasuk melawan bangsa sendiri. “Pemimpin-pemimpin kita ternyata pengecut semua!” teriak Bung Tomo.


Sebagai bentuk reaksi dari Masyumi dan sejumlah tokoh yang menolak perundingan Linggarjati itu, pada Februari dan Maret 1947 di Malang, SM Kartosuwiryo ditunjuk sebagai salah seorang dari lima anggota Masyumi dalam komite eksekutif untuk mengikuti sidang KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat). Sidang tersebut membahasa apakah Persetujuan Linggarjati yang telah diparaf oleh pemerintah Republik Indonesia dan Belanda itu dapat dibatalkan atau tidak. SM Kartosuwiryo dikawal oleh pejuang Hizbullah dan Pasukan Sabilillah karna dalam rapat tersebut diperkirakan akan ada dua kubu yaitu sayap sosialis  yang diwakili oleh Pesindo yang cenderung mendukung pemerintah dan sayap nasionalis islam yang diwakili oleh Masyumi dan PNI yang menolak perjanjian Linggarjati , Bung Tomo meminta kepada SM Kartoesuwiryo untuk mencegah pasukan agar tidak menembaki satuan-satuan Pesindo.
Read more ...

Sisi Politis dan Hukum Diangkatnya B.J. Habibie Menjadi Presiden

Ditulis oleh Lela Setianingsih

Sebagaimana layakanya tentara mundur dari medan perang, Soeharto meninggalkan ranjau-ranjau politik untuk mengamankan diri, keluarga, dan sangat mungkin kedinastiannya. Bagaimanapun kesinambungan kekuasaan  bak dinasti adalah bagian utama dari trilogi politik kekuasaan Soeharto. Trilogi kekuasaan soeharto itu adalah intensifikasi yaitu mengumpulkan kekayaan sebesar-besarnya (untuk ekstensifikasi dan kesinambungan kekuasaan). Ekstensifikasi yaitu  merangkul kelompok sebesar-besarnya (untuk intesifikasi dan mempertahankan kekuasaan). Dan kontinuitas ( untuk intensifikasi dan ekstensifikasi).

Ranjau politik pertama Soeharto mulai diletakkan dengan melimpahkan kekuasaaan kepada Habibie, bak raja tua menyerahkan tahta kepada putra mahkotanya. Hasilnya terlihat jelas dengan adanya reaksi pro kontra  berbagai pihak terhadap pelimpahan kekuasaan kepada Habibie sebagai presiden “Boneka” sebagai manifestasi kesinambungan kekuasaan Soeharto dari trilogi tersebut.

BJ Habibie  merupakan bagian atau kaki tangan dari rezim Soeharto. Maka naiknya Habibie sebagai presiden pun sama saja dengan bohong jika dibilang akan terwujud tuntutan reformasi total tersebut. Habibie merupakan bagian dari apa yang harus dibongkar dan dibuang agar bisa dibangun suatu pemerintahan yang bersih, berwibawa, demokratis, adil dan bijaksana. Bukan sekedar basa-basi! Bahkan Habibibi sebagai presiden memang merupakan bagian dari skenario dan antisipasi yang telah disusun rezim Soeharto demi menyalamatkan dirinya dan keluarganya dari tuntutan rakyat untuk mengadili mereka.

Rezim Soeharto telah melihat jauh kedepan dengan menempatkan orang-orang di pucuk pemerintahan yang pro atau sepaham dengan mereka. Rezim soeharto menyadari bahwa apa yang mereka lakukan selama 32 tahun berkuasa sudah banyak menyengsarakan rakayat. Rakyat yang akhirnya berontak akibat tekanan krisis Ekonomi yang berkepanjangan yang juga merupakan buah dari perilaku mereka itu tidak hanya menuntut  Soeharto turun, tetapi mempunyai keinginan untuk mengadili Soeharto dan keluarganya berikut Konco-konco mereka. Untuk itu rezim mempersiapkan “putra mahkota” yang akan menggantikan Soeharto sebagai presiden sekaligus tetap bisa melindungi mereka.

Habibie yang sudah 20 tahun lebih dirangkul Soeharto merupakan Figur yang cocok untuk itu. Sayangnya figur itu tidak cocok bagi rakyat indinesia secara keseluruhan.  Karena  perilaku Habibie yang tidak jauh berbeda dengan keluarga Cendana.

Naiknya Habibie menjadi presiden menggatikan presiden Soeharto menjadi polemik di kalangan ahli hukum. Sebagian ahli menilai hal itu konstitusional, namun ada juga yang berpendapat Inkonstitusional. Sehingga menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda, diantara mereka menyatakan pengangkatan Habibie menjadi presiden konstitusional berpegang pada pasal 8 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Bila presiden mangkat, berhenti atau tidak dapat melakukan kewajibannya, ia diganti oleh wakil presiden sampai habis waktunya”.Tetapi mereka yang menyatakan  bahwa naiknya Habibie sebagai presiden yang Inkonstitusional berpegang pada ketentuan pasal 9 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa “ sebelum presiden memangku jabatan maka presiden harus mengucapkan sumpah dan janji di depan MPR dan DPR”.

Sementara Habibie tidak melakukan hal itu, dan Ia hanya mengucapkan sumpah dan janji di depan Mahkamah Agung dan personil MPR dan DPR yang bukan bersifat kelembagaan. Apabila dilihat dari segi hukum materiil, maka naiknya Habibie menjadi presiden adalah sah dan konstitusional. Namun secara hukum formal hal itu tidak konstitusional, sebab perbuatan hukum yang sangat penting yaitu pelimpahan wewenang atau kekuasaan dari Soeharto kepada Habibie harus melalui cara resmi yang konstitusional. Jika tidak maka perbuatan hukum itu menjadi sah.

Pada saat itu memang DPR tidak memungkinkan untuk bersidang, karena gedung DPR/MPR di duduki oleh ribuan mahasiswa dan para cendikiawan. Dengan demikian hal itu harus dinyatakan sebagai suatu alasan yang kuat dinyatakan sebagai suatu alasan yang kuat dan hal itu harus dinyatakan sendiri oleh DPR.

Pemerintahan B.J Habibie tumbang dalam sidang umum 1999. Belum dua tahun masa jabatannya menjadi presiden, Timor-Timur  terlepas dari Indonesia. Di tengah-tengah upaya pemerintahan Habibie memenuhi tuntutan Reformasi, pemerintah Habibie dituduh melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesepakatan MPR mengenai masalah Timor-Timur. Pemerintah dianggap tidak  berkonsultasi terlebih dahulu dengan MPR/DPR sebelum menawarkan opsi kedua kepada masyarakat Timor-Timur.

Opsi pertama yaitu Otonomi luas bagi Timor-Timur. opsi kedua yaitu kemerdekaan bagi Timor-Timur , akhirnya pada tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat  di Timor-Timur berlangsung aman dan dimenangkan oleh Pro kemerdekaan yang berarti Timor-Timur  lepas dari wilayah NKRI.
Read more ...

5 Dec 2016

Analisa Pengangkatan RA Kartini Sebagai Pahlawan Nasional Secara Cepat Oleh Ir Soekarno



Pengkatan RA Kartini sebagai pahlawan nasional tertuang dalam keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, serta Ir Soekarno menetapkan hari lahir RA Kartini pada tanggal 21 April di peringati sebagai Hari Kartini.
Kisah RA Kartini yang berjuang melalui pemikiran-pemikiran beliau tentang emansipasi wanita melawan budaya kolot Jawa. Ini di karenakan pada saat itu perempuan Jawa di pingit untuk tidak di perbolehkan keluar dari rumah dan tidak di perbolehkan untuk mengenyam pendidikan. Pada masa pemerintahan Soekarno lebih melihat dari aspek perjuangan intelektual yang di lakukan secara konsisten, serius dan sungguh-sungguh yang menjadi alasan Ir Soekarno mengangkat RA Kartini sebagai pahlawan nassional pada saat itu.

Namun hal tersebut tidak memungkiri dari adanya kepentingan di dalam penggakatan RA Kartini. Hal ini di latarbelakangi dari silsilah keluarga RA Kartini yang merupakan keturunan dari Priayi atau kelas bangsawan di Jawa. Apabila dalam keturunan priayi merupakan sebuah keharusan untuk menjalani proses pingitan sebelum akhirnya dipinang oleh sesama bangsawan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang merupakan seorang Bupati beristri tiga di daerah Rembang. Buah dari pernikahan RA Kartini dengan K.R.M Adipati tidak serta merta menghentikan langkah RA Kartini untuk berjuang dalam memperoleh hak-hak bagi kaum wanita yaitu seperti pendidikan, serta kebebasan yang sampai saat ini menginspirasi bagi generasi setelahnya.


Dalam menceritakan bagaimana kehidupan wanita Jawa pada saat itu RA Kartini menulis surat yang beliau kirimkan kepada sahabatnya di Belanda, ini di karenakan dulu kartini pernah di sekolahkan oleh keluarganya selama 10 tahun di Belanda hal ini pula yang menyebabkan RA Kartini dapat menceritakan hal-hal yang menjadi keluh kesahnya kepada sahabatnya yang berada di Belanda. Dari kumpulan surat-surat RA Kartini tersebutlah yang pada akhirnya di terbitkan dalam bentuk sebuah buku yang telah di terjemah kan oleh Balai Pustaka pasca semeninggalnya RA Kartini yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang mana dalam menegaskan penokohan RA Kartini oleh Abendanoen seorang Belanda. Ini yang merupak sebuah ironi bahwa orang yang mengangkat nama Kartini sebagai Pahlawan Nasional Indonesia adalah Belanda Kolonial dan tidak menyangkal ada kepentingan politik dalam "pengangkatan" RA Kartini sebagai sebuah lambang emansipasi wanita versi Abendanoen.

Pihak Belanda ingin mencari seorang sosok wanita pribumi yang cerdas dalam pemikiran serta pandai dalam sistem imperalisme yang dikukuhkan oleh Belanda Kolonial di Indonesia. Belanda membutuhkan "Maskot". Dalam hal ini Belanda secara politik giat mempromosikan RA Kartini di dunia internasional dan menjadi kebanggaan milik "bersama". Hal tersebut merupakan stategi Belanda dalam mengalihkan perhatian para generasi muda Indonesia dalam perjuangan meraih kemerdekaan untuk bangsanya, sebagai politik adu domba khas Belanda Kolonial.

Sosok RA Kartini yang dibangun tidak serta merta menjadi sosok pro kolonial. Namun sosok RA Kartini ini dimunculkan sebagai seseorang Kartini yang hanya perduli dengan pendidikan, dan pendidikan dalam konteks ini hanya sebagai politik etis kolonial yang mengedepankan gagasan politik asosiasi (kerjasama erat nan mesra antara rakyat terjajah dan penjajahnya) sosok RA Kartini di sini juga merupakan sebagai korban politik kolonial.

Pada saat jaman orde baru sosok Kartini ini di kembalikan lagi sebagai sebagai seorang wanita yang memiliki tugas hanya di dapur dan hanya untuk mengurus masalah domestik rumah saja. Saat itu posisi wanita dalam masyarakatpun adalah yang harus diatur dan harus sesuai dengan Lembaga Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang mana hal ini merupakan sebuah alat kontrol pada masa pemerintahan orde baru terhadap gerakan kaum wanita untuk kembali ke "kandang". Pasca reformasi Kartini "kembali" keluar ke ranah publik, emansipasi wanita kembali dielu-elukan. Kartini buatan Abendoen kembali mendapatkan tempat bahkan menguat. Wanita masa kini bahkan bisa masuk dalam kancah perpolitikan, atau bahkan bersaing merebutkan kekuasaan. Ini merupakan sebuah bukti pengaruh yang sangat besar dari seorang RA Kartini, yang menjadi maskot kekuatan wanita yang tidak mau dikekang dan merupakan sebagai seorang sosok wanita yang bebas berkarya.

Yeni Cahyati
Read more ...

KMNU Unila gelar HUT Ke 6 di PWNU 3 Rajabasa



Bandarlampung. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Unila menggelar Maulidiyah yang ke 6 di PWNU 3 Rajabasa. Maulidiyah ini di hadiri oleh anggota KMNU Unila, KMNU Polinela serta PMII Komisariat Universitas Lampung.
Ketua Pelaksana, Adam Rouf Hidayat menuturkan dengan adanya maulidiyah ini bertujuan untuk memperingati hari lahir KMNU yang ada di Universitas Lampung yang bertepatan pada hari ini (5/12) di PWNU 3 Rajabasa dengan harapan selalu bersinergi untuk mewarnai Aswaja di Universitas Lampung.
Selain itu juga Ketua Umum KMNU Unila, Ahmad nur Fuad berharap untuk selalu bersinergi dengan PMII Unila sebagai sesama Saudara.
"Alhamdulillah Kmnu berumur 6 tahun, saya berharap PMII dan KMNU terus bersinergi untuk selalu bersama serta Istiqomah menjadi lebih baik lagi dalam sesama keluarga Aswaja di Unila" Ungkapnya.
Pembina KMNU , Anto Purwo Santoso juga berharap agar seluruh kader KMNU dan PMII selalu berprestasi dalam bidang apapun.
"Saya berharap PMII dan KMNU mulai lah menulis, karna untuk membesarkan NU tantangan nya makin luar biasa. Serta seluruh kader untuk terus melatih kemampuan membaca dengan jelih sehingga tidak mudah terhasut atau menghasut, sehingga menjadi dewasa dalam menganalisa sesuatu" tutupnya. (RFz)

Read more ...

1 Dec 2016

Kiai Mbeling Emha Ainun Nadjib

Oleh Siti Makrifah Rayon Fisip Unila

Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953 )adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Menjelang kejatuhan pemerintahan Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya yang kemudian kalimatnya diadopsi oleh Soeharto berbunyi "Ora dadi presiden ora patheken". Emha juga dikenal sebagai seniman, budayawan, penyair, dan pemikir yang menularkan gagasannya melalui buku-buku yang ditulisnya.
Cara dakwah Cak Nun hampir mirip dengan dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga. Satu-satunya Wali yang mengerti bahwa dakwah harusnya digarap secara kultural dan strategi ke-Jawa-an, karena wilayah dakwahnya ada di Jawa. Begitu juga Cak Nun dalam dakwahnya yang berpartner dengan kelompok musik Kyai Kanjeng pimpinan Nevi Budianto. Kajian-kajian islami yang diselenggarakan oleh Cak Nun yaitu Jamaah Maiyah Kenduri Cinta, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Padhangmbulan Jombang, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandang Ate Mandar, Maiyah Baradah Sidoarjo, Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali, Juguran Syafaat Banyumas Raya, dan Maneges Qudroh Magelang.

Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat. Cak Nun dan Kiai Kanjeng juga bertandang sebagai duta budaya, yang menyajikan Islam dan memperkenalkan bangsa Indonesia dalam cara yang unik. Kombinasi kekuatan intelektual, khasanah kultural dan wawasan rohani disuguh dalam dialog-dialog yang tergelar, serta diusung melalui irama yang dimainkan Gamelan Kiai Kanjeng. Tercatat lebih dari 3600 pergelaran hingga saat ini. Berkeliling dari kampung- kampung pelosok, desa-desa berkembang hingga kota-kota yang sibuk di antero nusantara.

Cak Nun yang mempopulerkan syair Lir-ilr karya ulama Wali Songo itu juga mewanti-wanti agar setiap manusia tidak gampang memvonis bahwa seseorang itu kafir atau syirik karena yang bersangkutan tanding dengan persoalan kebudayaan. Karena, iman itu dihati. Ideologi yang ramah dan menempatkan manusia setara satu sama lain inilah yang diadopsi Ainun untuk secara simbolis mengajak kita kembali ke kesetaraan yang adil dan beradab yang merupakan ajaran agama maupun ajaran politik kita.beragam jenis buku-buku Emha yang pernah diterbitkan, kini dicetak ulang dan masuk dalam jajaran buku laris Indonesia. Tiga penerbit besar semodel Kompas, Mizan dan Bentang Pustaka beberapa tahun terakhir kembali mencetak ulang buku-buku Emha. sudah tak terhitung dari buku-buku Emha yang dijadikan bahan skripsi oleh mahasiswa di tanah air. Salah satu buku yang sangar terkenal adalah buku yang berjudul Negeri Yang Malang.

Cak nun adalah seorang tokoh yang tidak mau mengidentitaskan dirinya. Banyak hal yang membuat ia memutuskan untuk tidak terlalu sering tampil di media massa. Terutama media massa nasional. Penyebabnya adalah kekecewaan Cak Nun terhadap fungsi sebagian besar media massa yang dianggap sudah terlalu jauh masuk ke ranah kepentingan materialistik hingga cenderung membodohi masyarakat. Beberapa alsan Cak Nun tidak mau mengidentitaskan diri diantaranya adalah tentang makna nasionalisme itu tidak harus meliputi seluruh NKRI. Ada sebuah landasan yang dijadikan pemikiran cak nun tentang identitas diri yaitu pada surah Surah albaqarah : 148 Yang artinya :

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kalimat walikulliwijhatun adalah bentok personalitas sedangkan kalimat yang muncul selanjutnya, fastabiqu-l- khoirot itulah identitasnya, bukan namanya, buakn bendanya yang penting, tetapi perbuatan baiklah yang paling primer untuk menguatkan personalitas. Islam merupakan hal rohani bukan jasmani. Pada zaman nabi adam tidak kenal kata islam, bahkan nabi-nabi sebelum rasulullah tidak semuanya melaksanakan rukun islam, maka identitas manusia itu bukan siapa dia dalam menjalankan peran dikehidupannya, tetapi apa yang dia lakukan, sehingga rumusan pada ayat tersebut Allah swt. Meneguhkan bahwa output terbaik dari keberagaman segala makhluk-Nya adalah identitas(fastabiqul khoirot). Dan yang paling penting dan melekat dihati cak nun adalah Nasihat ibu nya Chalimah “Hidup itu kan sederhana, nak. Pokoknya kamu itu berbuat baik, terserah dimana, sama siapa, dengan siapapun, dan dimanapun”.

Pemikiran cak nun ini mengingatkan kepada salah satu kalimat yang diucapkan oleh Abdurrahman Wahid yaitu “ tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah Tanya apa agamamu”.

Read more ...

30 Nov 2016

Analisis Tulisan Sahabat Mahbub Junaidi



Ditulis oleh Riyan Agung Pambudi

Mahbub Junaidi, sosok kelahiran Jakarta, 27 juli 1933 ini gemar menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan iya pernah ber statemen “ aku akan menulis dan tetap menulis hingga aku tak mampu menulis lagi”. Beliau adalah ketua umum pertama Pergerakan Mahasiwa Islam Indonesia (PMII) yang sengaja didirikan untuk menjawab rasa kegelisahan para pemuda dan mahasiswa pada waktu itu.

Di pilihnya sahabat mahbub junaidi sebagai ketua umum bukan berarti tanpa pertimbangan yang matang, bilau di pilih karna memang beliaulah sosok yang pantas dan berkompeten untuk mengurusi PMII pada waktu itu. Beliau belajar berorganisasi sejak duduk di bangku sekolah, dan tulisan-tulian beliau sudah tidak asing lagi beredar di kalangan masyarakat.

Melalui majalah tempo tulisan-tulisan beliau tersebar luas di seluruh penjuru nusantara dan dapat di nikmati oleh semua kalangan, salah satu penikmat tulisanya adalah bapak proklamator kita yaitu Ir.soekarno dan sekaligus presiden pertama Indonesia. Melalui tulisanya inilah sahabat mahbub di kenal akrab dengan Ir.soekarano, namun demikian sahabat mahbub tetap menulis dengan subyektif  dalammengkritisi kepemerintahan di era Ir.soekarno dan menyelipkan humor-humor di setiap tulisanya.

Sahabat mahbub junaidi memang di kenal aktif dalam mengritisi sistem pemerintahan dan kebijakan-kebijakan yang di kluarkan oleh pemerintah, dengan tulisanya yang khas itu saya mencoba mengambil salah satu karangan beliau yang di rilis oleh KOMPAS pada tanggal 18 mart 1981 yang berjudul “Buku Petunjuk ”Pendidikan Politik Sejak Dini kita menemukan kritik yang menarik sekaligus jenaka. Begini tulisnya “Apabila seorang anak sudah duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, paling lambat di kelas 6, ajaklah dia ke Kebun Binatang. Begitu menginjak pintu gerbang segera bisikkan di kupingnya, “Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu, bukan?” Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binatang yang berpolitik itu namanya manusia.”

Berangkat dari salah satu tulisan beliau ini ada beberapa point yang kita dapat yakni POLITIK, BINATANG, dan MANUSIA. Dan kenapa tulisan ini di tulis pada tahun 1981 ? menurut sumber yang saya dapatkan, kondisi politik di indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyaknya Kolusi,Korupsi, dan Nepotisme (KKN) di era kepemimpinan Ir.soeharto juga menjadi salahsatu faktor runtuhnya beliau di kursi kepemimpinan indonesia.

perekonomian di indonesia semakin merosot karna banyaknya kepentingan politik luar negri maupun dalam negri sehingga mengakibatkan banyaknya para kalangan elit politik di indonesia yang hanya memperkaya diri sendiri sehingga KKN semakin marak bahkan sulit di bedakan antara manusia dan binatang itu sendiri.

Dan inilah mahbub junaidi dengan kritikanya yang tajam dan subjektif tetapi tidak menghilangkan karakteristik tulisanya yang humoris.


Read more ...

Analisis Ekonomi Politik Indonesia Pasca Kemerdekaan Hingga Reformasi

PMII-Pertemuan ke lima Komunitas Tidak Bodoh (KTB) membahas tentang ekonomi politik Indonesia pasca kemerdekaan sampai dengan 1998 (29/11/16). Perlunya kita memaknai slogan yang dikatakan oleh presiden soekarno yaitu jangan sekali-kali melupakan sejarah yang disingkat “jasmerah”. Sejarah menyimpan keberadaan jati diri rakyat Indonesia, Indonesia akan hancur apabila jati dirinya dihancurkan.

Ekonomi Politik Pada Masa Presiden Soekarno
Pada saat itu negara memasuki babak baru dalam menata masa depan bangsa, dan baru berdaulat. Ekonomi yang terpuruk karna mengingat pada saat itu berlangsung perang dunia ke-2, dimana 2 blok besar sedang bertarung sehingga diberlakukannya politik bebas aktif. Dua raksasa besar itu adalah pihak komunis dan kapitalis.     

Awal mula mengapa dahulu Indonesia menganut demokrasi liberal karna perekonomian Indonesia belum stabil sehingga memberikan ruang gerak bagi importer untuk mengembangkan usahanya di Indonesia. Setelah muncul perusahaan-perusahaan swasta barulah Indonesia memberlakukan demokrasi terpimpin dengan tujuan pasar bebas tetap terkontrol, sehingga perekonomian dikendalikan oleh negara yang nantinya menjadikan perekonomian Indonesia menjadi stabil.

Indonesia menjadi mandiri dengan adanya demokrasi terpimpin. Tolak ukur ekonomi bangsa pada tahun 1950 sampai 1966 perkembangannya signifikan. Indonesia pada saat itu memiliki mata uang Jepang, mata uang Belanda dan Javasche yang kemudian menjadi bang Indonesia sehingga terbitlah ORI yaitu Oeang Repoeblik Indonesia.

Berbicara bentuk nyata politik luar negeri yang soekarno bangun diantaranya adalah Konfrensi Asia Afrika, hubungan baik dengan Pakistan dan Unisoviet, menjadi bukti bagaimana soekarno dapat menjalin kerjasama dengan negara-negara yang sama rasa yang katanya negara berkembang, yang sebenarnya istilah berkembang digunakan untuk membentuk sekte-sekte, seperti seolah-olah Indonesia berada dibawah jepang.

Ketika India hendak menyerang Pakistan, Indonesia mengirimkan kapal selamnya untuk membantu Pakistan, yang mana pada saat itu hanya Indonesia dan Unisoviet yang mempunyainya bahkan Amerika belum mempunyainya. Hal tersebut membuktikan betapa hebatnya politik luar negeri Soekarno, maka tidak berlebihan apabila Soekarno  dikatakan pahlawan asia.

Karna kuatnya politik luar negeri yang dibangun Soekarno sangat sulit untuk dihancurkan. Maka dibuatlah propaganda politik dalam negeri, membikin Indonesia carut marut dengan dibuatnya skenario G30 S PKI. Tuduhan terbunuhnya jenderal-jenderal besar bangsa saat  itu kepada komunis. Kenapa hal tersebut dilakukan? Tujuannya adalah untuk melengserkan presiden Soekarno dengan alasan  bahwa beliau dekat dengan komunis. Padahal tidak ada bukti bahwa pelakunya adalah komunis, bahkan masih diragukan apakah ada jenderal-jenderal yang dibunuh saat itu.

Ekonomi Politik Pada Masa Soeharto
Pada masa Tirani (Orba) kembali kepada demokrasi liberal dimana soeharto pada saat itu diduga sebagai agen CIA sebagai utusannya memimpin Indonesia selama 32 tahun. Oleh sebab itu Indonesia sangat mesra dengan barat berbeda dengan Soekarno yang dekat dengan timur.

Zaman tirani membuka peluang ekonomi makro yang berujung pada kapitalis dan erat dengan KKN dengan embel-embel bantuan atau pinjaman sehingga dana yang digunakan semua berasal dari barat yang berdampak pada eksploitasi Sumber Daya Alam. Bangunan-bangunan di Indonesia masih banyak peninggalan kepemimpinan soeharto hanya saja sedikit dibenah yang diperoleh dari hutang luar negeri.

HPH (Hak Pengusahaan Hutan) sebagai dalih eksploitasi sumber daya alam adalah suatu bukti kekejian Soeharto pada saat itu, menganut paham Kapitalis yang tidak ada puasnya meletakkan cakarnya dibumi Indonesia.

Pada zaman rezim Soeharto tidak diberikan paham politik, karna dengan menghancurkan politik suatu bangsa maka ekonominya pun akan hancur. Namun berjalannya tahun sampai 1998 Soeharto tak lagi bisa diperas lagi susunya oleh Amerika maka Ia pun dijatuhkan dengan propaganda dalam negeri yaitu amukan para mahasiswa menuntut turunnya Soeharto. Semua itu didalangi oleh pihak Amerika jika memang mahasiswa pada saat itu bertujuan untuk menjatuhkan Soeharto, lalu mana rumusannya untuk Indonesia kedepannya, KKN sampai sekarang masih menggrogoti bangsa Indonesia.

Setelah jatuhnya Soeharto dibuatlah boneka Habibie akan tetapi rakyat Indonesia tidak bisa dibohongi hingga tidak berlangsung lama masa kepemimpinan Habibie. Tidak ada yang bisa menyelamatkan Indonesia pada saat itu selain Nahdlatul Ulama. Maka dari itu Soeharto berkunjung ke PBNU hingga naiklah Gusdur sebagai presiden.

Selama 350 tahun Indonesia dibumi hanguskan dan selama 32 tahun dihilangkan sejarah kita, dengan tujuan utaman menjajajah Indonesia melalui eksploitasi SDA. Maka dari itu mengapa janganlah hanya kita hapal “Jas Merah “ sebagai slogan soekarno akan tetapi haruslah kita maknai lebih dalam lagi akan penting nya sejarah itu menyangkut jati diri bangsa Indonesia. Agar kita tidak mudah terprovokasi oleh kaum-kaum yang tidak menyukai Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia. NKRI Harga Mati.

Penulis: Yogi Prayogo


            
Read more ...

28 Nov 2016

Mengenal Sosok Hebat Bung Tomo, Sang Orator Arek-Arek Surabaya


Hari pahlawan tidak lengkap jika belum ada pahlawan nasionalnya. Pahlawan nasional ini datangnya dari kota Surabaya dimana pada tanggal 10 November 1945 terjadi perang besar-besaran di kota tersebut. Para pejuang berhasil mengalahkan sekutu berkat adanya semangat dari sang orator. Siapa sih yang jadi orator pada waktu itu? Simak yuk profil sang orator selengkapnya di bawah ini.

Sempat Putus Sekolah
Nama orator yang berhasil membakar semangat para pejuang di Surabaya itu siapa lagi kalau bukan Bung Tomo. Pemilik nama asli Sutomo ini lahir pada tanggal 3 Oktober 1920 di Surabaya, tepatnya di kampung Blauran. Ayahnya seorang kepala keluarga dari kelas menengah ke atas bernama Kartawan Tjiptowidjojo. Ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga berdarah campuran Madura, Sunda dan Batak.

Masa muda Sutomo dikelilingi dengan keluarga yang jujur dan penuh semangat. Beliau bersekolah di MULO pada usia 12 tahun namun terpaksa putus karena adanya dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Lalu, pada usia 17 tahun, beliau jadi terkenal karena di usianya yang masih sangat muda itu, beliau sudah berhasil mencapai peringkat Pandu Garuda. Peringkat itu gelar untuk orang terkenal Hindia Belanda, dimana peringkat ini hanya didapatkan oleh 3 pemuda Indonesia, salah satunya Bung Tomo.

Bakar Semangat Para Pejuang Surabaya
Pada tahun 1944, beliau bergabung dengan Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang karena beliau pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Saat kembalinya tentara Inggris dan Belanda untuk melucuti senjata pasukan Jepang, terjadilah perjanjian yang membuat rakyat Indonesia marah, terutama yang ada di Surabaya.

Pertempuran terjadi sejak pukul 6 pagi tanggal 10 November 1945 yang berpusat ditengah kota Surabaya. Di sana, tentara Inggris dipersenjatai dengan senjata api, meriam, tank dan pesawat tempur. Sedangkan rakyat Surabaya hanya bersenjatakan bambu runcing. Disana, Bung Tomo dengan semangat yang membara memberikan orasi yang penuh dengan api semangat. Terbakarlah para pejuang untuk memerangi sekutu. Lalu, pertempuran itu menewaskan jendral A.W.S Mallaby dari Inggris.

Gagal di dunia politik
Setelah kemerdekaan, Sutomo sempat terjun di dalam dunia politik pada tahun 1950. Lalu, beliau merasa kurang nyaman dan beliau menghilang sejenak. Lalu pada masa Orde Baru 11 April 1978, beliau kembali berbicara keras untuk pemerintahan Soekarno. Beliau dijebloskan ke penjara dan setahun kemudian beliau dibebaskan.

Sutomo yang dari kecil sudah dididik oleh keluarga yang berpendidikan dan beriman, beliau pun melakukan ibadah haji. Malang tak dapat dihindari, beliau meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi pada tanggal 7 Oktober 1981. Jenazahnya dibawa pulang ke Indonesia lalu dimakamkan di pemakaman umum di jalan Ngagel, Surabaya.
Meskipun bagi kebanyakan orang kurang familiar dengan nama ini, Bung Tomo telah mendarah daging dalam semangat perjuangan dan kemerdekaan arek-arek Suroboyo.
Read more ...

27 Nov 2016

PKC PMII Lampung Dan PMII Unila Hadiri Mapaba Sekaligus Konfercab PMII Cabang Lampung Selatan

PMII – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia cabang Lampung Selatan melaksanakan  musyawarah tertinggi organisasi tingkatan cabang yakni konfrensi cabang ( konfercab) ke VI  PMII Lampung Selatan di Sekretariat Cabang. Minggu ( 27/11/2016).

Dalam acara ini suasana sidang terlihat kondusif dan damai, mulai dari pelaporan pertanggung jawaban pengurus sebelumnya hingga proses pencalonan ketua cabang Lampung Selatan. Akhirnya dalam Konfercab PMII Lampung Selatan ke VI telah terpilih sahabat Ahmad Sayuti secara aklamasi.

Sahabat Arham Pangeran selaku ketua PC PMII Lampung selatan masa khidmat 2014 – 2015 mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus  yang telah memberikan sumbangsih terhadap kemajuan PMII di Lampung Selatan, dan selamat kepada sahabat Ahmad Sayuti yang terpilih sebagai ketua PC PMII Lampung Selatan masa khidmat 2015 – 2016.

Dalam konfercab ini dihadiri oleh PKC Lampung dalam hal ini diwakilkan sahabat Samsudin Tohir dan sahabat PMII Unila. Ketua PKC Lampung sahabat Perial Darma yang dihubungi melalui media telepon menyampaikan selamat kepada sahabat Ahmad Sayuti yang terpilih untuk memimpin PMII cabang Lampung Selatan.

Hendy Novrian selaku ketua komisariat PMII Universitas Lampung yang turut hadir dalam konfercab tersebut juga menyampaikan “ Selamat kepada sahabat Ahmad Sayuti yang baru saja terpilih sebagai ketua cabang PMII Lampung Selatan, semoga bisa amanah dan membawa PMII Cabang Lampung Selatan semakin jaya” ucapnya



Read more ...

26 Nov 2016

Gotong Royong Budaya Lokal Nusantara

PMII – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia komisariat Universitas Lampung mengajak anggota dan kadernya untuk bergotong royong bersama. Kegiatan ini dilaksanakan di sekitar lingkungan komisariat PMII unila. Minggu ( 27/11/2016)

Menurut Hendy Novrian selaku ketua komisariat, kegiatan ini adalah salah satu bentuk nyata kepengurusan untuk menanamkan sikap gotong royong kepada anggota dan kadernya. Hal ini dikarenakan semangat gotong royong pada saat ini sudah mulai luntur khususnya dikalangan pemuda-pemuda yang cenderung apatis terhadap lingkungan.

“ kegiatan ini bertujuan agar para anggota dan kader PMII Unila bisa peka terhadap lingkungan, dimulai dari lingkungan tempat tinggal” selain itu Hendy juga mengatakan bahwa ini merupakan implementasi dari nilai dasar pergerakan.
“ ini juga adalah bentuk implementasi terhadap nilai dasar pergerakan yaitu hablum minal’alam”  tambahnya

Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus komisariat dan pengurus rayon PMII Universitas Lampung. Ketua rayon Fakultas Hukum  Ahmad Distadiy Falamy mengutip sebuah pepatah “ Annazhafatul Minal Iman” “ kebersihan itu adalah sebagian dari iman” ujarnya

Read more ...
Designed By cara usaha | Powered By Blogger