Breaking News

25 Apr 2017

Diumur 94 Tahun NU, AIS NUsantara Gelar Lomba Desain Poster

Dalam rangka 94 tahun Nahdlatul Ulama dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) (02/05), AIS (Admin Instagram Santri) NUsantara menggelar lomba desain poster bertajuk "Jangan Jadi Katak dalam Gadget, Menyikapi Era Digital dalam Dunia Pendidikan". Menurut ketua panitia, Shofa menjelaskan bahwa lomba ini diadakan atas dasar minimnya pengawasan dalam era digital saat ini. "Tidak sedikit yang melakukan kejahatan karena minimnya pengawasan dalam era digital saat ini."

Shofa menerangkan bahwa lomba ini dibuka dalam skala nasional dan dibebaskan dari biaya pendaftaran. "Skala nasional, tetapi tidak diperkenankan bagi Anggota AIS NUsantara," kata Shofa dalam rilis yang diterima redaksi nu-lampung.or.id. Shofa menerangkan bahwa juri dalam lomba sangat kompeten dalam bidang ini. "Jurinya H. M. Hasan Chabibie (Pegiat Literasi), Munawir Aziz, MA (LTN PBNU), dan M. Hidayatullah (Wakil Ketua Bidang Kominfo PW IPNU Jawa Tengah)," Lebih lanjut, Shofa menjelaskan untuk template dan formulir pendaftaran dapat diunduh di bit.ly/lombaposteraisnu.

Sedangkan untuk hadiah, Shofa menjelaskan ada jutaan rupiah. "Total hadiah jutaan rupiah, ditambah kaos dan buku menarik." Untuk informasi lebih lanjut, terang Sofa, bisa menghubungi dia. "Hubungi saja saya di 085740888856 dan hilal 085740888856 khusus whatsapp, karya kirim ke aisnusantara@gmail.com."

Sementara Ketua AIS Jawa Tengah, Minardi Kusuma menerangkan bahwa lomba ini akan menjadi agenda sosialisasi kepada pelajar dan pemuda dalam menyikapi era digital. Ia juga berterimakasih kepada AIS NUsantara yang telah mempercayai AIS Jawa Tengah untuk melaksanakan lomba ini.
Read more ...

PMII Unila Siap Kembali ke NU


Tinggal hitungan Minggu, musyawarah tertinggi dalam organisasi PMII yang disebut kongres akan segera dimulai ( Selasa, 25 April 2017).

Momen kongres merupakan momen yang akan menentukan kepengurusan dan keberlanjutan PMII ke depan. Dalam kongres tersebut akan ditentukan siapa yang akan memimpin PB PMII dan PB Kopri.

Selain agenda pemilihan ketua PB PMII dan PB KOPRI, salah satu hal yang menjadi pembicaraan hangat sejak beberapa tahun terakhir adalah terkait status PMII apakah akan kembali ke NU atau tetap pada independensi.

Hal ini merupakan menjadi perbincangan serius di kalangan alumni, PKC, dan Cabang, termasuk Komisariat hingga Rayon.

PMII Universitas Lampung menyatakan siap lahir dan batin, jika PMII mau kembali ke NU. Hal ini tentu bukanlah karena dorongan siapapun, tetapi memang secara hati nurani PMII Unila menginginkan kembali ke NU.

PMII tidak bisa terlepaskan dari NU, apalagi PMII masih melestarikan dan memegang teguh ajaran- ajaran Ahlu Sunnah waljamah dalam kehidupan sehari hari dan berorganisasi.

Sudah saatnya PMII kembali ke NU, dan PMII Unila secara ikhlas lahir batin siap kembali ke NU. (Hendy)




Read more ...

16 Apr 2017

Peringati Harlah NU ke-94 dan PMII ke-57, PMII Unila Gelar Isra' Mi'raj Nabi Muhammad Saw




Bandarlampung.  Peringati Harlah NU ke-94 dan PMII ke-57, pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Lampung gelar Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW di gedung PWNU 3 Rajabasa Bandarlampung, Minggu (16/4/2017).

Kegiatan Peringatan hari lahir NU dan PMII sekaligus Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW ini di ikuti oleh Kh. Hafidun Hanif selaku Mustasyar PWNU Lampung,  Tajudin Nur selaku Sekretaris PW GP Ansor Lampung,  Masyhuri selaku Sekretaris IKA Lampung, Iwan Satriawan selaku Dosen Fakultas Hukum Unila, Kader-kader PMII dan seluruh pengurus PMII Komisariat Universitas Lampung.

Ahmad Nur Fuad,  Wakil Ketua 3 Bidang Kajian Keagamaan PMII Unila berharap dengan kegiatan ini menambah pemahaman tentang sejarah NU dan PMII serta meneladani akhlak Nabi Muhammad Saw


"Semoga dengan adanya acara ini dapat merefleksi sejarah dan tujuan berdirinya PMII, lalu paham dengan sejarah NU, melestarikan tradisi NU, serta mngmbil pelajraan dengan peristiwa isra' mi'roj dan meneladani akhlak Rosulullah untuk selalu kita terapkan. Sehingga pada akhirnya dari ketiga tersebut dapat mereflaksi kader PMKI yg sesuai dg motto pmii dzikir, Pikir dan Amal Sholeh" ungkapnya

Selain itu juga Kh Hafidudin Hanif, Mustasyar PWNU Lampung berpesan untuk seluruh kader PMII di lampung untuk semangat menggali ilmu pengetahuan, PMII harus menjadi penggerak untuk mewujudkan warga nahdliyin yang mayoritas baik secara kuantitas maupun kualitas serta kader pmii harus mampu menjadi orang yang berakhlakul karimah.


"Semoga diumur yang ke 57 ini PMII semakin solid , dan mampu menciptakan kader kader yang berdaya saing baik itu disektor ekonomi, politik, maupun sosial dan agama. Serta PMII tetap komitmen memperjuangkan cita cita kemerdekaan Indonesia" tutup Hendi Novrian,  Ketua PMII Komisariat Unila. (RFZ)

Read more ...

13 Apr 2017

Selenggarakan RTAR, Sahabati Yeni Cahyati Lanjutkan Estafet Kepengurusan Rayon PMII FKIP Unila

Berakhirnya kepengurusan Sahabat Sandi Setia Makruf sebagai ketua rayon PMII Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Komisariat Universitas Lampung menghasilkan Sahabati Yeni Cahyati sebagai ketua rayon terpilih. Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) adalah forum musyawarah tertinggi dalam pemilihan ketua rayon baru. Kegiatan RTAR ini dilaksanakan di gedung PWNU 3 Rajabasa pada kamis (13/4/17).

Melanjutkan estafet kepengurusan dengan harapan optimalisasi pengkaderan yang terealisasi dalam bentuk kajian ke-PMII-an adalah tanggung jawab bersama warga pergerakan itu sendiri. Dengan terpilihnya Sahabati Yeni Cahyati membuktikan adanya peran Kopri dalam proses pengkaderan. “Sahabati yang satu ini sangat terbentuk jiwa militan dan loyalitasnya terhadap PMII, tidak ada keraguan bagi saya untuk memilih dan mendukung penuh program kerja yang terarah dari anggota Kopri handal ini, semangat Sahabati Yeni Cahyati.” Pungkas ketua komisariat PMII Unila.

Sebuah organisasi harus memiliki kejelasan baik secara struktural maupun fungsional sehingga nantinya bisa memberikan kepastian arah dalam pemberdayaan anggota khususnya rayon PMII FKIP Unila itu sendiri. Semua itu sangat membutuhkan semangat juang untuk memberikan kontribusi yang terbaik bagi organisasi yang biasa dikenal dengan motto dzikir, fikir, amal sholeh ini.

Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya begitulah syair yang tertera dalam lagu sakral kebangsaan Indonesia raya. Maka dari itu PMII hadir dengan tekad berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia dengan cara menggerakkan anggota PMII pada ranah rayon khususnya sebagai ujung tombak pengkaderan.

Jiwa perubahan kearah yang lebih baik itu sudah dibuktikan oleh sahabati ketua rayon terpilih ini dalam berproses dengan mengikuti pendidikan formal, informal maupun nonformal di PMII. “Sebuah pengorbanan yang tulus untuk kebaikan bersama demi kemajuan PMII tercinta dan dengan niat karna Allah mudah-mudahan saya bisa memberikan kontribusi yang terbaik dengan dipercayai melanjutkan estafet kepengurusan rayon PMII FKIP Unila.” Tutur Sahabati Yeni Cahyati.

Read more ...

9 Apr 2017

PMII DAN KMNU UNILA BERHASIL MENYABET JUARA SELEKSI MTQ MN

Bandar Lampung-Seleksi MTQ Mahasiswa Nasional yang diselenggarakan oleh pihak universitas lampung di masjid Al-Wasii dengan cabang lomba yaitu Musabaqah Tilawatil Qur’an (TL), Musabaqah tartilil Qur’an (TQ), Musabaqah Qira’at Sab’ah (QS), Musabaqah Hifzhil Qur’an, Musabaqah Fahmil Qur’an (FQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (SQ), Musabaqah Khaththil Qur’an Golongan Dekorasi (KQD), Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Kandungan Al-Qur’an (KT), Debat Ilmiah Kandungan Al-Qur’an dalam Bahasa Arab (DA), Debat Ilmiah Kandungan Al-Qur’an dalam Bahasa Inggris (DI), Musabaqah Desain Aplikasi Komputer Al-Qur’an (DK), Sabtu-Minggu (8-9/4).

Anggota PMII dan KMNU Unila turut mengikuti kegiatan perlombaan tersebut yaitu Ahmad Distadiy Falamy, Listya Ningsih, Dewi Maryana Sukma, Fuad Hasyim, Agus Setiadi, Ahmad Nur Fuadi, Lisna, M. Nurhidayat Rosihun, Dwi Wahyudi, Ardiamto, A. Nuril Huda, Tito Gustowo, Anjumi, Istiqomah, Agus Supriadi, Tira Pitri Yantika, Noviani Widiawati.

Mahasiswa-mahasiswi tersebut merupakan kader terbaik Nahdlatul Ulama yang berhasil menorehkan prestasi, sehingga harapannya dapat mengharumkan nama unila di kancah nasional. Adapun cabang lomba yang juarai yaitu Musabaqah Fahmil Qur’an (FQ), Musabaqah Syarhil Qur’an (SQ), Debat Ilmiah Kandungan Al-Qur’an dalam Bahasa Arab (DA) dan Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Kandungan Al-Qur’an (KT).

"Mudah-mudahan dengan adanya ajang bergengsi ini akan muncul generasi Nahdlatul Ulama yang mampu bersaing di kancah lokal maupun nasional,” tutur Ahmad Nur Fuadi selaku ketua keagamaan pengurus komisariat pergerakan mahasiswa islam indonesia (PMII) universitas lampung.

Majunya suatu bangsa merupakan tugas kita semua, salah satunya adalah peran pemuda itu sendiri dalam menorehkan prestasi khususnya mahasiswa yang mengembangkan diri sesuai dengan bakatnya masing-masing. Oleh karena itu mahasiswa yang tergabung dalam PMII dan KMNU universitas lampung turut ambil bagian mengikuti kegiatan seleksi MTQ Mahasiswa Nasional XV dan berhasil menyabet juara.

“Ini adalah momen dimana saya bisa membuktikan bahwa kader Nahdlatul Ulama mampu memberikan kontribusi bagi kampus tercinta universitas lampung, dan ucapan terimakasih kepada sahabat/i yang sudah memberikan dukungan pada kegiatan bergengsi ini,” ujar ketua rayon pergerakan mahasiswa islam indonesia fakultas hukum Ahmad Distadiy Falamy.
 
Read more ...

7 Apr 2017

DINAMIKA TOLERANSI DAN POLITIK RADIKAL DI INDONESIA


Demokratisasi, transisi demokrasi, konsolidasi demokrasi di Indonesia secara teori telah memasuki periode yang seharusnya telah semakin mantap dan memasuki era awal penghayatan budaya demokrasi yang sesungguhnya. Setelah 19 tahun bergelut dengan berbagai perdebatan, konflik, persaingan konsep, serta pelaksanaan demokrasi yang ditandai dengan proses pemilihan pemimpin baik pada level nasional maupun daerah, mayoritas rakyat Indonesia atau bahkan seluruh rakyat Indonesia usia akil baligh telah terbiasa dengan demokrasi prosedural. Ibarat usia manusia, adalah peralihan dari remaja menuju dewasa.
Secara umum, dinamika proses demokratisasi di Indonesia banyak dinilai sangat berhasil. Berbagai kalangan di luar negeri maupun dalam negeri mengakui keberhasilan-keberhasilan yang dicapai Indonesia dalam menerapkan demokrasi sebagai aturan main dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun hal itu bukan tanpa cacat atau masalah-masalah yang menggerogoti dan terus menghantui perjalanan demokrasi di Indonesia. Sejumlah persoalan yang bersumber dari perilaku korup kalangan politisi tercatat mulai dari politik uang untuk memenangkan pemilu, maraknya praktek korupsi sebagai modal politik, maraknya kasus gratifikasi di sektor hukum, dan lain sebagainya. Selain itu, persoalan yang bersumber dari penghalalan segala cara dalam memenangkan pemilu, ketidaksiapan untuk menerima kekalahan, serta tidak sehatnya dinamika internal partai politik yang terpecah-pecah oleh kepentingan elit politik menjadi wajah perpolitikan nasional Indonesia yang suram.
Salah satu karakter dari sistem politik demokrasi adalah toleransi yang berasal dari bahasa latin tolerantia yang berarti kemampuan untuk menanggung suatu keadaan tertentu. Sementara dalam catatan sejarah kata toleransi mulai banyak dipergunakan dalam bahasa Perancis kuno pada abad ke- 14 Masehi, dan berkembang dalam makna menerima perbedaan mulai digunakan pada tahun 1530-an. Arti toleransi secara individu yang diartikan bebas dari prasangka, bebas dari sikap memaksakan keyakinan pribadi, serta sikap menerima perbedaan pandangan mulai berkembang pada tahun 1760-an. Kemudian berkembang lagi pada tahun 1860-an dalam pemaknaan penerimaan keanekaragaman. Meskipun makna toleransi juga berkembang di dunia kedokteran dalam arti kemampuan tubuh manusia menerima atau menanggung suatu keadaan sebagai akibat dari pengobatan misalnya toleransi terhadap antibiotik, namun artikel ini memaknai toleransi dalam pendekatan ilmu sosial.
Setelah memahami makna toleransi tersebut, tentunya kita dapat memeriksa ke dalam diri kita masing-masing dan juga ke dalam organisasi dimana kita bernaung, apakah makna dasar toleransi yakni kemampuan untuk menerima perbedaan, bebas prasangka SARA, dan sikap tidak memaksakan keyakinan kepada pihak, cukup kuat dalam diri kita?  
Betapapun klaim yang dibuat orang-orang liberal humanis bahwa mereka adalah penganut toleransi sejati, hati kecil manusia siapa yang tahu? Setiap kita lahir dengan potensi-potensi baik dan buruk, menerima dan tidak menerima, penuh prasangka karena perbedaan, dan lain sebagainya yang membuat kita menjadi manusia dan bukan malaikat.
Kemampuan untuk bersabar, menahan diri, dan menyikapi dinamika hubungan sosial adalah lebih penting daripada propaganda memaksakan toleransi sebagai prinsip hidup karena akhirnya konsep toleransi itu justru tidak toleran kepada realita konflik yang lahir dari perbedaan. Kemampuan setiap individu dalam menerima perbedaan berbeda-beda sehingga hingga akhir zaman akan terus tercipta suatu kondisi konfliktual apabila perdebatannya semata-mata hanya soal penerimaan perbedaan. Apa yang harus dikembangkan kepada semua pihak adalah agar menahan diri dari perbuatan dan tindakan yang dapat menciptakan kondisi konflik yang semakin tajam. Kondisi konflik tersebut dalam titik yang paling ekstrim adalah perang dan saling membunuh.
Bangsa Indonesia dan para pendiri Republik Indonesia sadar betul bahwa Indonesia sebagai bangsa disatukan oleh kesamaan cita-cita. Itulah sebabnya slogan Bhinneka Tunggal Ika digunakan sebagai pemersatu dan menjadi sebuah pengakuan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari beraneka ragam suku bangsa yang bersatu dalam ikatan cita-cita untuk menjadi bangsa yang maju sejahtera adil merata. Cita-cita boleh setinggi-tingginya, namun jangan lupa dengan realita konflik yang bersifat potensial dari perbedaan itu sehingga sangatlah penting bagi kita semua untuk menyadari kerawanan dari sikap arogan atau prasangka negatif dalam diri kita dalam memperlakukan sesama anak bangsa.
Berangkat dari anjuran untuk meningkatkan kemampuan menahan diri, sekarang mari kita lihat bagaimana dinamika politik yang dilabelkan radikal oleh sebagian pihak dan propagada toleransi di lain pihak yang mengklaim diri sebagai pihak yang benar.
Contoh pailng mudah sebagai studi kasus adalah dinamika politik menjelang Pilkada DKI Jakarta yang menjadi magnet perhatian bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Apabila kita membaca berita secara hati-hati, kasus penistaan agama yang menimpa Sdr. Ahok sebagai salah satu kandidat Gubernur DKI menciptakan polarisasi sikap masyarakat secara umum menjadi dua yakni mereka yang menganggap telah terjadi penistaan agama dan mereka yang menilai tidak terjadi penistaan agama. Kemudian secara politik juga terjadi dua kutub yakni Pro Ahok atau Ahokers (para pendukung Ahok) dan Anti Ahok (para penentang Ahok). Semua bercampur dalam dinamika propaganda-propaganda politik yang bersumber dari perbedaan yang disiram oleh penyubur intoleransi yakni arogansi Ahok, ketersinggungan umat Islam (terkait dengan kemampuan menahan diri), dan intrik politik baik dari kelompok Pro Ahok maupun Anti Ahok.
Betapapun cerdasnya atau cerdiknya kita menyusun propaganda-propaganda politik mendukung salah satu calon gubernur, kita perlu memperhatikan dampaknya kepada masyarakat yang dapat semakin emosional apabila terlalu lama dan terlalu sering digosok. Barangkali kita berusaha mempengaruhi pandangan publik tentang dinamika toleransi yang belakangan digambarkan memprihatinkan, namun sesungguhnya apa yang terjadi hanya berada di pusaran politik Pilkada DKI Jakarta yang dikelola oleh mereka-mereka yang berkepentingan langsung. Sementara masyarakat penduduk DKI Jakarta secara umum adalah penonton yang sedang dipengaruhi dan penentu hasil Pilkada yang sedang menyerap berbagai informasi yang berkembang.
Benarkah telah terjadi politik radikal dari umat Islam dalam pilkada DKI Jakarta? Pada satu sisi, Islam politik dalam berbagai kajian sering dipojokkan sebagai politik intoleran dan eksklusif dan yang paling menyedihkan adalah label radikal untuk menakut-nakuti umat Islam agar menjauhi politik. Namun di sisi lain, perilaku dan sikap politisi atau aktivis Islam cenderung terjebak dalam label Islam politik sehingga kurang mampu merangkul lapisan masyarakat yang lebih luas dengan konsep-konsep menyentuh kepentingan dasar dari seluruh golongan. Alih-alih memperjuangkan umat Islam, politisi dan aktivis Islam lupa bahwa masyarakat Indonesia sangat beranekaragam sehingga yang paling menarik perhatian masyarakat secara umum adalah apa-apa yang yang menjadi kepentingan mereka dan langsung menyentuh keseharian mereka. Benar bahwa Islam sebagai gerakan juga sangat besar potensinya, namun jangan lupa bahwa hakikat politik selamanya adalah kompetisi menjadi penguasa dan dalam koridor demokrasi adalah memperoleh simpati dukungan rakyat yang terbesar. Apabila politisi dan aktivis Islam tetap terkungkung dalam konsep memperjuangkan umat Islam saja secara eksklusif maka akan sulit untuk mendapatkan simpati rakyat yang lebih luas. Meskipun mayoritas rakyat Indonesia beragama Islam, namun sejak Indonesia merdeka terbukti bahwa karakter umum keberpihakan umat Islam Indonesia adalah lebih kepada harmonisasi hubungan sosial dan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan yang adil merata, serta bukan kepada politik Islam.
Mayoritas umat Islam di Indonesia dalam sejarah dunia Islam adalah umat yang paling pandai menahan diri dan sangat toleran. Hanya sebagian kecil dari umat Islam yang mengatasnamakan agama pernah tidak lagi dapat menahan diri dan melakukan usaha mendirikan negara Islam seperti kelompok Darul Islam dan Negara Islam Indonesia. Kemudian ada juga yang terjebak dalam konsep terorisme seperti Jemaah Islamiyah dan berbagai metamorfosanya. Sementara pada level yang lebih damai adalah yang memperjuangkan Syariat Islam melalui gerakan sosial perubahan serta politik. Apakah semuanya radikal? Radikal adalah label untuk membungkam atau menyadarkan kembali mereka yang mempertajam konflik perbedan ke level kekerasan atau pencapaian tujuan politik melalui kekerasan.
Mereka yang memaksakan kehendak dan keyakinan melalui kekerasan jelas tidak toleran, namun apakah mereka yang menyampaikan aspirasi melalui aksi massa juga tidak toleran? Hal ini perlu diteliti terlebih dahulu.
Apa yang sedang terjadi di Indonesia belakangan ini, baik kasus-kasus yang bernuansa SARA dengan berbagai berita bohong (hoax), penajaman perbedaan, kampaye penghormatan kepada perbedaan, sikap saling menyerang, serta berbagai polemik perbedaan sikap dalam kasus Ahok bukan soal toleransi ataupun label politik radikal. Semuanya adalah pertarungan murni politik yang mengambil jubah SARA, toleransi-intoleransi, bhinneka tunggal ika, pembunuhan karakter, fitnah, saling meng-inteli, untuk KEKUASAAN. Iya benar, semuanya adalah bagian dari pertarungan POLITIK KEKUASAAN yang uniknya agak keluar koridor demokrasi dengan berbagai dinamika strategi yang apabila dibiarkan terus akan semakin tajam menuju konflik terbuka atau menuju kepada power abuse yang pada gilirannya akan merusak demokrasi yang telah dibangun hampir 20 tahun ini.

Kepada berbagai pihak yang sedang bertarung mempraktekkan keahliannya dalam propaganda, keahlian dalam cipta kondisi, keahlian dalam manipulasi hukum, keahlian dalam rekayasa kasus, keahlian dalam kriminalisasi, sadarlah bahwa masyarakat tidak menghendaki terciptanya kondisi yang membingungkan itu semua. Demokrasi adalah kesepakatan kita bersama dalam membangun Indonesia, memilih pemimpin, dan mensejahterakan rakyat. Marilah kita bangun budaya demokrasi yang sesungguhnya dan jangan dirusak dengan berbagai manipulasi demi tercapainya kursi kekuasaan, semoga anda semua yang sedang aktif terlibat membaca artikel ini, kemudian berkenan berpikir ulang serta berpihak kepada kepentingan rakyat daripada kepentingan kelompok atau golongan. (cakra nazrin)
Read more ...

2 Apr 2017

BAHAYA BIBIT - BIBIT RADIKALISME

Saat ini, propaganda yang dilakukan kelompok radikal telah menyebar secara meluas, baik itu media nyata atau media online. Segemen dan target mereka tidak jauh - jauh dari para anak muda yang remaja, pelajar dan mahasiswa.  Apalagi para mahasiswa baru yang sejatinya masih mencari jati diri dikampus dan ada juga yang sedang proses berhijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Situasi ini menjadi peluang yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok radikal, ditambah lagi Mereka para mahasiswa baru ini cenderung belum memiliki pemahaman mendalam terkait isu agama dan negara, meski kerap kali semangat mereka melangit ketika membahas keduanya.

Kemudian kondisi ekonomi menjadi alasan mengapa mereka terekrut pada kelompok radikal. Kelompok kelompok yang masih bawah garis Kemiskinan kerap kali dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mempengaruhi dan kemudian merekrut masyarakat untuk bergabung menjadi simpatisan kelompok radikal hanya karena bermodalkan janji-janji manis akan kehidupan yang lebih sejahtera.

Sementara disisi doktrin keagamaan, masyarakat kita kebanyakan masih beragama hanya karena keturunan. Menganut sebuah agama dan mengikuti ajaran –ajarannya lebih karena pengaruh kebiasaan yang dijaga secara turun temurun.  Meski tidak sedikit pula yang kemudian mendapat hidayah dan petunjuk dari allah swt untuk  dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama secara keseluruhan. 

Lucunya adalah ketika kita lihat dimedia atau secara langsung, mereka mengajak anak – anak mereka yang masih kecil yang berkisar kelas 3 SD untuk ikut berdemo. Padahal tentulah mereka belum begitu memahami kondisi yang sebenarnya terjadi, mereka hanyalah korban ikut ikutan yang kemudian dampaknya adalah memunculkan sikap kebencian atau ketidak percayaan yang kemudian menganggap kelompok merekalah yang paling benar.

Ajaran agama berfungsi sebagai objek kajian yang harus terus diaktualisasi, diinterpretasi dan dikaji secara akademik agar selalu aktal dan sesuai dengan perkembangan zaman serta sesuai dengan tuntunan generasi. Tetapi, kini ajaran agama dimanipulasi daengan membuat tafsiran yang dimonopolli oleh komunitas radikal. Misalnya saja karena kekecewaan dalam bidang politik, mereka yang kecewa dalam politik ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk membangun citra organisasi yang seoalah olah menampung kekecewaan masyarakat yang kemudian digunakan untuk melawan pemerintah.

Tentunya ini adalah menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia, termasuk NU sebagai organisasi islam terbesar di Indonesia yang harus menjaga negara kesatuan republik Indonesia dari kelompok – kelompok radikal. Sudah saatnya NU dengan jumlah masa yang besar bergerak memasuki berbagai bidang terutama pendidikan. Selain itu perlunya menggencarkan peranan media sesuai dengan perkembangan zaman saat ini, baik media online maupun media cetak yang berfungsi untuk membendung informasi – informasi hoax dan fitnah yang digencarkan oleh kelompok – kelompok radikal.(Hendy)

Read more ...

1 Apr 2017

SANGGAR SENI, PMII MUDA BERKARYA DALAM BUDAYA



Perkembangan bangsa dari masa ke masa memiliki budaya yang patut untuk dipertahankan, warisan nenek moyang yang cinta terhadap NKRI. Pemuda yang mulai timbul kesadaran nya akan eratan terhadap budaya, bergerak melaksanakan kegiatan-kegiatan positif dalam rangka mempertahankan persatuan dan kesatuan NKRI. (2/4/17)

Bakti Ikhlas pada negri yang menjunjung budi pertiwi, memang menarik untuk diperbincangkan, tapi akan lebih baik lagi jika diamalkan. Sebuah jalan organisasi pergerakan mahasiswa membuktikan itu semua. Melalui program Sanggar Seni organisasi yang biasa dikenal dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ini melatih kader-kadernya dalam menari.

Tutur Ketua KOPRI Unila Siti Makrifah “Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan positif ini menjadi gerakan yang bermanfaat bagi diri pribadi kader, maupun untuk Negara itu sendiri sehingga akan ada gerakan-gerakan lain yang bisa mencontoh Sanggar Seni ini, dari diri pribadi dan pastinya dari organisasi seperti ini lah saat yang pas untuk berkontribusi terhadap nusa dan bangsa dalam bingkai budaya nusantara”.

Pelatihan ini untuk mempersiapkan jika nantinya ada kegiatan-kegiatan  mengenai organisasi itu sendiri maupun kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan, sehingga nantinya terbentuknya kualitas dalam diri kader itu sendiri. Pemberdayaan kader adalah tujuan dari PMII Unila melalui program-program yang mendukung keterampilan dan bakat yang disenangi, dan salah satu penerapannya melalui program Sanggar Seni PMII unila.  (yogi)



Read more ...

PMII Unila Bekali Anggota dan Kader Belajar Bahasa Internasional



PMII – Pengurus PMII komisariat Universitas Lampung semakin menggalakan belajar bahasa internasional kepada anggota dan kadernya. Hal ini mengingat dunia semakin berkembang dan persaingan di dunia kerja semakin sengit. Salah satu upaya yang dilakukan pengurus adalah dengan membuat English course yang di bimbing langsung oleh sahabat Novita yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa pasca sarjana Bahasa Inggris di Universitas Lampung.(02/4/2017)

Persaingan global yang menuntut para generasi muda agar dapat bersaing adalah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya, termasuk salah satunya adalah dengan memberikan soft skill dalam berbahasa internasional.

Sekretaris komisariat Yogi Prayogo mengatakan bahwa kegiatan English course ini dijadikan program utama oleh komisariat agar anggota dan kader PMII Unila memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya.

“ English Course ini program utama kami untuk meningkatkan kualitas anggota dan kader khususnya dalam berbahasa inggris agar mereka siap bersaing dengan dunia luar nantinya” ujar yogi

Selanjutnya ketua rayon MIPA Bandung setiwan menambahkan bahwa anggota dan kader PMII Unila ini nantinya diharapkan dapat bersaing bukan hanya di dalam negeri tetapi dapat bersaing juga dengan mahasiswa asing lainnya.

“ Harapannya anggota dan kader PMII Unila ini bisa bersaing tidak hanya dengan mahasiswa lokal tetapi mampu bersaing dengan mahasiswa luar juga”

Kegiatan English course ini difokuskan kepada kemapuan berbicara dan menulis dalam bahasa inggris serta program TOEFL untuk kader yang sudah semester 6 keatas. (Hendy)



Read more ...

Tampilnya Kader Terbaik PMII Unila Sebagai Sekda Lampung Timur




Beberapa tahun belakangan ini, menjadi catatan sejarah bagi PMII Universitas Lampung. Hal ini melihat beberapa kader PMII Unila mampu menempati posisi strategis di Provinsi Lampung. Mulai dari DPRD,DPR, hingga Bupati. Hal ini tentu sangat membanggakan bagi warga PMII Lampung dimana kader kader PMII telah menunjukan keamampuan dan kualiatas mereka untuk membangun Provinsi Lampung.(02/4/2017)

Salah satu kader terbaik unila yang baru saja di lantik sebagai Sekda Lampung Timur yakni sahabat Syahrudin Putra S.Sos. Beliau merupakan salah satu kader terbaik yang dimiliki oleh PMII Unila. Perjuangan dan keikhlasan beliau ketika menjadi seorang kader PMII menjadi contoh yang baik untuk warga PMII saat ini.

Hendy Novrian selaku Ketua komisariat Unila mengungkapkan “ kami sangat bangga kepada sahabat Syahrudin Putra yang sekaligus ayah bagi kami di PMII Unila bahkan rasa bangga ini tidak dapat diungkapkan hanya melalui kata – kata karena begitu bahagia saat terdengar berita bahwa ayah kami telah dilantik menjadi orang berpengaruh di Lampung Timur, tentu kami ucapkan selamat kepada Sahabat Syahrudin Putra S,Sos yang telah dilantik sebagai sekda lampung timur semoga diberikan kekuatan dalam menjalankan amanah” Ungkapnya

Hal yang menarik dalam acara pelantikan tersebut yakni adanya bupati lampung timur sahabat Chusnunia Chalim M.si  yang juga merupakan kader PMII. Hal ini menunjukan bahwa PMII merupakan organisasi yang mampu mengantakan warganya untuk mengemban amanah rakyat.
Read more ...
Designed By cara usaha | Powered By Blogger