Breaking News

9 Jun 2014

Pemuda dalam Bayang-Bayang Kebangkitan Nasional


Barangkali tak ada kesibukan mulia yang dapat kita lakukan kecuali mempelajari sejarah (Brama Aji Putra :2012), mengemas ungkapan tersebut dengan begitu apik, mengisyarakan kepada generasi penerus agar senantiasa dapat mengambil i’tibar. Dari segala sisi kehidupan tentang sejarah.
            Sejarah, pada dasar-nya tercipta setelah kejadian telah berlalu, dengan kosep yang begitu “Sederhana” tokoh nasionalis Goerge Santayana, memperingatkan  bahwa mereka yang gagal mengambil pelajaran dari sejarah dipastikan akan mengulangi pengalaman sejarah baru. literasi kata bijak : jatuh dilubang yang sama.
Adalah Budi Utomo, yang dijadikan gagasakan muculnya peringatan hari kebangkitan nasional. Sejak 20 Mei tahun 1820 sampai 20 Mei Tahun 2014, bangsa Indonesia sudah tercatat memperingati selama 106 kali. Kebangkitan Nasional.
106 Tahun silam, dilukiskan keadaan bangsa begitu pelik dengan hadirnya sejuta problema, mulai dari kelaparan, kemiskinan,tingkat pendidikan, rancunya status sosial, hukum, politik, hingga penjajahan bangsa asing. (kolonialisme)
Faktual-nya kolonialisme benar-benar telah menggerus habis kesejahteraan masyarakat, maka wajarlah hadirnya gerakan Budi Utomo, yang mula-mula berbasis untuk regional orang jawa. Membawa angin segar bagi kehidupan generasi bangsa selanjutnya.
Dan kini, takala Negara Indonesia bebas dari belenggu Kolenialisme, kata “Kesejahteraan” masih jauh api dari panggang, artinya : masyarakat dan sejuta problema masih terus tersisa dan mengakar pada setiap element kehidupan
Pengukuran-pengkuran kesejahteraan, melaui IPM (Indeks Pembangunan Manusia) baru-baru ini menjadi landasan idil di jaman modern, perlu kita helat lembaran. Gagasan IPM Yang tertuang 3 unsur :Pendidikan, kesehatan dan laju pertumbuhan ekonomi. Menjadi PR besar bangsa ini yang belum pernah terselesaikan.
Anggaran Pendidikan 20 % dari APBN dan Anggaran Kesehatan 37 %. Pada tahun 2014 Ternyata tidak cukup efektif meningkatkan laju pertumbungan ekonomi bangsa Indonesia, nyatanya Indonesia sampai saat ini belum bisa memenuhi IPM dalam pembangunan (development) berkelanjutan.
Pernik-pernik ekuvalen (keseimbangan), dalam menyikapi serta memahami realita sekarang, perlulah seluruh mayarakat bangsa ini, belajar dari sejarah, agar sekiranya mampu memaknai ghiroh kebangkitan nasional sebagai bayang-bayang di setiap momentum kehidupan.
Meskipun, patut menjadi catatan. Naluriah masyarakat perindu-kondisi sejahtera (social welfare) tidak pernah ditemui dalam kehidupan masyarakat yang sesungguh-nya. (Soetomo : 2009)
Historical Legancy Kebangkitan Nasional Pemuda
Historical legency-warisan sejarah, merupakan bahan antik yang harus dicermati secara saksama. Dengan memahami sejarah. Masyarakat secara universal diharapkan mampu, menjadi produk cermin keberhasilan dan kegagalan bangsa. Bukan hanya sebatas pada segmen pembelajaran tanpa pengamalan.
Teropong lain, agar tidak terjadi kepincangan. Dalam sejarah dan kenyataan, haruslah ber-modal perbaikan secara absolut. Jikalau kita mempu menoleh sejenak, keberadaan bengsa Indonesia dengan historical legency “Kebangkitan Nasional” (Budi Uotomo), terus menerus berarah kesinambungan.
Asdiansyah, Juwenda (1998), menyebutkan bahwa babak kebangkitan nasional, dimulai pada tahun 1908, ketika Dr. Wahidin Sudiro Husodo dan kawan-kawan mendirikan organisasi kepemudaan pertama (Budi Oetomo). Selajut-nya 1928, para pemuda dari berbagai suku di tanah air bersatu, mendeklarasikan semangat kebersamaan, persatuan, dan kesatuan; lewat sebuah ikrar bersama bernama Sumpah Pemuda.
Sungguh fundamental, pergerakan dan pemuda dalam kebangkitan Nasional, hingga ahir-nya mereka berhasil merebut “Kemerdekaan”. Menciptakan kesejahteraan yang belum bisa di wujutkan menjadi kenyataan.
Bukan hanya itu, pada momentum pelengseran paksa, dua penguasa negri ini (1966 dan 1998), historical legency kebangkitan nasional, telah berhasil menumbangkan rezim Orde Lama (ORLA) yang digawi oleh Sokarno dan rezim Orde Baru (ORBA) yang di pelopori ditaktor “Soeharto”. Dengan apalagi?, kalau bukan dengan alih-alih kesejahteraan.
Namun, fakta-nya. Perjalanan reformasi yang di-idamkan selalu saja berporos pada satu kata, yakni : kegagalan, bahakan lebih parah-nya, peran pemuda mengalami mati suri setelah itu, lebih-lebih mahasiwa yang terkesan apatis, pragmatis dan opertunis.
Analisa spekulatif, fenomena tersebut terjadi, karna pemuda cenderung pasif  memahami makna historical legency kebangkitan nasional yang telah ada.
Pemuda Harapan Masa Depan dan Kejayaan.
Sang proklamator Soekarno: pernah berujar “Beri saya seribu orang tua, maka akan aku cabut anak gunung krakatau dan beri saya sepuluh orang pemuda, maka akan aku goncangkan dunia”. Terkesan, sampai-sampai menjadi pernyataan terkenal.
Dan demikianlah, keadaan bangsa saat ini, harus di sikapi oleh pemuda dengan jeli dan teliti, passal-nya memang pemuda sebagai benteng terhir melawan segala bentuk kesemelewengan dari pemerintahan.
Pembentukan pemuda yang baik , sesungguh-nya adalah dengan proses yang baik, bukan instan yang siap saji. Jika siap saji, sama saja kita mewarisi budaya KKN dan kesalahan insitusi di berbagai bidang, baik itu hukum, politik atau ekonomi. Padahal sejati-nya lawan kita bukan lahkawan kita.
Menjadikan peran pemuda dalam mengapai bayang-bayang, tidak cukup hanya dengan berpangku tangan, apalagi dengan berdiam diri : Anda diam bukan berarti anda aman.
Meskipun, tak dapat di nafikan jika dalam dunia organisasi ke-pemudaan saat ini, terdapat berbagai kelompok, yang tentu saja orientasinya berbeda-beda, namun alangkah baik jika berbedaan terhadap kemajemukan dipandang sebagai konsep memahami persoalan Negara.
Dan jika memang sudah membentuk cara dan proses yang baik, pergerakan pemuda akan tersa lebih mudah menjadikan momentum kebangkitan nasioal. Sebagai proses pembentukan kesejahtreaan. Mengaggulangi lingkaran setan kemiskinan (Vicius Sircle of Poverty).
Itulah satu cara, agar mengembalikan pemuda sebagai masa depan dan kejayaan. Semoga.
Penulis. Imam Mahmud

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger