Breaking News

12 May 2015

Cholid Narbuko, Pendiri PMII Ini Sangat Demokratis

Konferensi Besar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Kaliurang, 55 tahun yang lalu menjadi tonggak awal sejarah berdirinya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tercatat 13 nama, yang bertugas merumuskan pendirian organisasi mahasiswa berbasis NU saat itu, sehingga berdirilah PMII. Salah satu dari 13 Tokoh Mahasiswa NU tersebut adalah Mahasiswa NU asal Malang yang dikenal sangat demokratis, Cholid Narbuko.

Bernama lengkap H Cholid Narbuko bin Zubair, pria ini lahir di Salatiga tepat 21 April 1937. Cholid Narbuko wafat di Semarang, pada Tanggal 13 Juni 1999 yang lalu. Ia pun dimakamkan di pemakaman tanah kelahirannya, Pemakaman Kauman Salatiga.

Cholid Narbuko adalah akademisi ulung, yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim yang saat ini dikenal dengan UNISMA (1969-1965). Selanjutnya, ia juga telah memperoleh gelar Sarjana di FISIP UNEJ Jember (1968).

Salah satu pendiri SMP NU Malang (1965) ini telah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Tak lama setelah mengabdikan diri di Departemen Agama Provinsi di Semarang, ia memilih untuk mengajar di PGA Jember (1967 – 1969).

Tangan dinginnya dalam dunia pendidikan juga telah membawanya menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di beberapa perguruan tinggi. Berawal menjadi pembantu dekan Fakultas Tarbiyah Sunan Kalijaga di Kudus (1969), ia terpilih menjadi Dekan di Fakultas tersebut (1970 -1975). Setelah itu, ia dipercayakan menjadi dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo di Semarang (1975 – 1977).

Kemudian menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah di Salatiga (1978 – 1980). Dua tahun menjadi Dekan di Salatiga, ia pun kembali menjadi Dekan Fakultas Tarbiyah Walisongo Semarang (1982 – 1989).
Setelah empat tahun berdirinya PMII, ia memutuskan untuk menikahi wanita asal Cepu, Hj. Siti Rosyidah Binti KH. Samsul Hadi. Pernikahan tersebut digelar tepat pada Tanggal 26 April 1964. Buah pernikahan tersebut dikaruniai 5 orang anak yakni, Dra Tina Wasithoh F.N, Ririn Siti Hajar Amd, Mohammad Umar Fatah Wijaya S.SSO MA, Noor Syamsiah Alina Amd, dan Jazimah Thoifatul Muthmainah Amd.

Perjalanan hidupnya begitu memberikan arti dan makna bagi keluarga dan masyarakat. Bagaimana tidak, akademisi tulen yang juga merupakan salah satu pendiri PMII ini adalah sosok yang sangat penyabar. Bahkan ia dikenal sebagai sosok pria, yang sama sekali tak pernah memperlihatkan kemarahannya. Maka tak heran, jika siapapun akan merasa tenang dan nyaman ketika bersanding, bersenda gurau dan saling berbagi cerita dengannya.

Jiwa pengabdian dan rasa sosialis yang tinggi, tak urung membuatnya lelah untuk berbagi. Ketika aktif menjadi Dekan Tarbiyah di beberapa Perguruan Tinggi, ia aktif mengadakan kegiatan bertajuk sosial. Salah satu yang rutin diadakannya adalah mengadakan sunatan masal. Tak ingin berjuang sendiri, ia terus memotivasi keluarga, agar tak kenal lelah mengabdikan diri pada lingkungan dan masyarakat.

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger