Breaking News

5 Aug 2015

Agama vs Tradisi

Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk “aku” jadi “ana”, “sampean” jadi “antum”, “sedulur” jadi “akhi”. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.
(K.H. Abdurrahman Wahid)

BERDASARKAN sejarah, dapat dikatakan bahwa seluruh agama samawi (agama langit) dan ardli (bumi) yang tumbuh dan berkembang di Indonesia adalah agama impor. Hal ini disebabkan jauh sebelum agama-agama impor itu datang di bumi nusantara, masyarakatnya sudah beragama, namanya agama Kapitayan. Agama Kapitayan secara sederhana dapat digambarkan sebagai suatu ajaran keyakinan yang memuja sembahan utama yang disebut Sanghyang Taya, yang bermakna Hampa, Kosong, Suwung, atau Awang-Uwung (Agus Sunyoto:2014).

Maka, jika Islam adalah agama impor dari Arab yang dibawa oleh pedagang-pedagang dari Gujarat, Kristen adalah agama impor dari Eropa yang dibawa oleh bangsa penjajah Belanda. Demikian juga kiranya dengan Hindu dan Buddha yang datang dari India.

Dalam perkembangannya, agama-agama baru ini harus menghadapai tradisi-tradisi lokal yang telah ada di Indonesia dan bagaimana mengomunikasikannya sehingga dapat berkembang hingga sekarang tanpa ada pertentangan di dalamnya. Islam sendiri tumbuh dan berkembang di Indonesia yang harus menghadapi tradisi-tradisi yang sudah ada sehingga tampak dalam masjid-masjid di Pulau Jawa bukan beratap kubah bulat sebagaimana masjid di Timur Tengah, melainkan beratap genting dan pundan berundak tiga mirip dengan candi yang menandakan syariat, hakikat, dan makrifat atau Islam, iman, dan ikhsan.

Hal yang juga terjadi dengan agama Kristen, misalnya terlihat dengan kemunculan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang berpusat di tanah Batak, Gereja Kristen Pasundan (GKP) di tanah Pasundan, dan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Jawa Timur. Bahkan beberapa gereja di Kediri dan Jawa Tengah menggunakan bahasa Jawa dalam kebaktian setiap minggunya.

Agama Hindu dan Buddha pun demikian, antara pemeluk agama Hindu di Bali dengan di Tengger sudah berbeda. Masyarakat Tengger lebih suka menyebut agamanya dengan Hindu Tengger karena sudah ada beberapa perbedaan ritual peribadatan antara Hindu Bali dan Tengger atau bahkan dengan pusatnya sendiri di India.

Namun, akhir-akhir ini banyak bermunculan masalah dalam kehidupan beragama di masyarakat, khususnya bagi umat Islam, mengenai pertarungan antara sesuatu yang dianggap sakral melawan yang profan. Atau dalam bahasa Ahmad Fawaid Sjadzili sakral itu lebih diwakili oleh agama, sedangkan tradisi kultural adalah profan dan bagian dari bidah. Tradisi lokal patut dibersihkan dan digantikan dengan ajaran-ajaran agama sebagaimana hadir dari sumber yang pertama (baca: Islam Puritan).

Negoisasi-negoisasi yang penuh dengan sifat toleran dan nyaris tanpa ketegangan ini akhirnya mengalami pengerasan dengan munculnya desakan pemurnian atau purifikasi yang hendak menghadirkan Islam otentik sebagaimana era Nabi Muhammad saw. Perdebatan mengenai polemik seputar autentitas nilai-nilai agama yang melebur dengan tradisi lokal menjadi debat sengit yang tidak berkesudahan. Tidak saja di masa lampau, bahkan hingga memasuki abad ke-21 ini. Tudingan kelompok-kelompok tertentu meleburkan ajaran klenik, takhayul, bidah, dan khurafat dengan ajaran agama masih saja terus terjadi dan bergulir, khususnya dalam pengajian-pengajian yang diadakan di masjid-masjid kampus umum. Mereka sering memperdebatkan adanya selawatan, tahlilan, manaqiban dan jiaroh kubur (STMJ) yang tidak sesuai dengan ajaran Islam di era Nabi Muhammad saw.

Mereka tidak sadar bahwa semenjak meninggalnya Nabi Muhammad sudah tidak ada lagi yang dapat dijadikan satu-satunya sumber rujukan ketika terjadi permasalahan di masyarakat. Apalagi dengan perkembangan Islam yang semakin luas hingga menuju Asia Tengah dan Afrika di era Umar bin Khattab. Permasalahan umat Islam semakin beragam yang juga dipengaruhi oleh letak geografis dan kondisi masyarakat setiap daerah yang tentunya sangat berbeda dengan kondisi Arab. Maka, munculnya imam mazhab sebagai salah satu solusi pemecahan masalah-masalah yang muncul di masyarakat menjadi tidak terelakkan. Realitas ini berakibat berbedanya pendapat antara imam mazhab yang satu dengan yang lain ini dalam memberikan fatwanya.

Salah satunya adalah yang terjadi di Indonesia, negara Indonesia adalah negara agraris dan maritim yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan budaya yang tentunya akan sangat berbeda dengan kondisi masyarakat Islam di Arab.

Keberadaan Nahdlatul Ulama (baca: NU) yang didirikan oleh para ulama pada 31 Januari 1926 adalah selain sebagai wadah perjuangan melawan penjajah Belanda, juga sebagai pelindung budaya dengan cara akulturasi, bukan revolusi sebagaimana yang sering dikumandangkan oleh kelompok-kelompok puritan.

Inilah yang menurut K.H Hasyim Muzadi menjadi keunikan NU. Menurut beliau, di antara keunikan NU dibandingkan corak keislaman lain di Tanah Air adalah cara NU menyikapi adat. NU tidak menolak adat dan tradisi lokal sepanjang cocok dengan tradisi Islam. Diktum klasik yang begitu lekat di kalangan nahdliyin adalah merawat tradisi lama yang baik dan mengadaptasi tradisi baru yang lebih baik (al-muhafadzah alal qadimis sholih wal akhdu bil jadidil aslah).

Hal ini juga dikuatkan oleh pendapat yang disampaikan oleh K.H. Ahmad Shiddiq. Menurut beliau, Islam tidak serta-merta apriori menolak tradisi lama, juga tidak menentang apalagi menghapuskan sama sekali. Hal ini disebabkan jika Islam adalah ajaran yang kaku, tentunya Islam tidak dapat berkembang sampai seperti saat ini. Tentunya Islam akan menjadi agama yang kolot dan radikal karena segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam asli harus tertolak. Padahal, dalam sejarahnya Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. juga dipengaruhi oleh tradisi-tradisi lokal seperti sunah makan kurma, memakai siwak, bahkan mencium hajar aswat itu juga merupakan tradisi masyarakat Arab yang turun-temurun.

Dengan demikian, kita harus dapat membedakan mana ajaran, mana adat istiadat. Mengutip kata-kata dari Gus Dur “Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampean’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’. Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.”

Ditulis oleh M. Iwan Satriawan
Pengurus LTNU Provinsi Lampung

Dikutip dari http://lampost.co/berita/agama-vs-tradisi-, pada Kamis 06 Agustus 2015 pukul 07.19

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger