Breaking News

26 Oct 2015

PMII Kentingan Kenalkan Karakter Santri di UNS

Peringatan Hari Santri perdana tahun 2015 dianggap sebagai momentum penting untuk mengenalkan dan menumbuhkan karakter kesantrian di dunia pendidikan Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa. Pengurus PMII Kentingan Surakarta dengan menggelar kajian mahasiswa berbalut kegiatan kultural keagamaan untuk memperingati Hari Santri di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), Kamis (22/10) malam.

Acara yang diawali dengan pembacaan doa Asyura, tahlil, maulud Al-Barzanji, dan sholawat dengan iringan rebana itu dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus setempat.

Ketua PMII Kota Surakarta Ahmad Rodif Hafidz yang hadir sebagai pemateri kajian mengatakan Hari Santri yang baru saja ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada 22 Oktober 2015 melalui Keppres No 22 Tahun 2015 ini merupakan momentum  bersejarah yang sangat perlu diketahui masyarakat.

Sebab, 70 tahun silam pada tanggal itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan ulama lain telah bersepakat mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad untuk mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

“Dari Resolusi Jihad itu, para ulama berhasil menggerakkan para santri dan masyarakat pada masa itu untuk berperang melawan penjajah demi membela bangsa,” ujarnya.

Menurut Rodif, Fatwa Resolusi Jihad itu menunjukkan bahwa dunia pesantren jelas berperan penting bagi bangsa Indonesia. Faktanya, selain diajarkan tentang ilmu agama, di pesantren para santri juga diberi wawasan cinta Tanah Air dan berbagai bekal untuk mengabdi.

“Para santri yang belajar ilmu agama di pesantren itu malah diperkuat nasionalismenya,” kata Rodif yang pernah nyantri di Ponpes Assa’du Bantul dan Buntet Cirebon ini.

Mahasiswa jurusan Teknik Sipil UNS ini juga mengatakan, dengan momentum peringatan HSN ini diharapkan dunia pendidikan Indonesia utamanya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk turut mengenalkan karakter kesantrian kepada para mahasiswanya lewat kegiatan akademik maupun non-akademik. Dengan begitu, tidak akan ada cerita mahasiswa Indonesia yang malah anti-Pancasila dan anti-nasionalisme.

“Banyaknya generasi muda yang ahistoris dan anti-nasionalisme itu karena dunia pendidikan kita hari ini tidak mencontoh apa yang diajarkan ulama terdahulu seperti Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy’ari) kepada para santrinya,” jelasnya.

Dalam sesi dialog, seorang hadirin yang merupakan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Sosilogi UNS Ahmad Zahid menyatakan sudah seharusnya seorang mahasiswa Islam memiliki prinsip-prinsip keislaman ala santri yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Yakni, menjunjung toleransi (tasamuh), tegak lurus (ta’addul), moderat (tawassuth), dan seimbang (tawazun).

“Maka dengan begitu, mahasiswa juga mampu mendorong mewujudkan cita-cita bangsa seperti yang telah dilakukan kalangan santri dahulu dalam membela Tanah Air,” ungkapnya. 

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger