Breaking News

8 Dec 2015

Pentingnya Dukungan Psikososiospiritual, Manajemen Terapi Nutrisi dan Higienitas Lingkungan Untuk Penderita AIDS

Juara 3 National Essay Competition Online PMII Unila
Annisa Bunga Nefara


Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit menular seksual yang hingga saat ini belum ditemukan terapi yang dapat menyembuhkannya. Terapi medis hanya dapat menunda terjadinya komplikasi dan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang menyerang sel-sel imunitas dalam tubuh manusia. Gejala-gejala AIDS bukan disebabkan oleh virus itu sendiri, melainkan karena ketidakmampuan sistem imunitas tubuh untuk berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga penderita AIDS mudah terkena infeksi di seluruh bagian tubuhnya. 

AIDS masih tetap menjadi masalah di seluruh dunia, tidak hanya di indonesia. Di indonesia sendiri, angka kasus AIDS terbanyak ada di pulau jawa , dan angka kasus AIDS di Indonesia ini selalu meningkat selama 4 tahun ini, dengan laporan terakhir pada tahun 2014 terdapat 32.711 kasus. Banyak sekali faktor resiko terjangkitnya HIV yaitu biseksual, homoseksual, perinatal, transfusi darah, dan 81% faktor risiko yterjangkitnya HIV adalah heteroseksual. Berdasarkan Ditjen PP&PL., Kemenkes RI 2015, angka terbanyak penderita AIDS terletak pada kelompok usia dewasa muda yaitu 20-29 tahun sebanyak 32,2%. usia-usia inilah dimana kondisi psikis seseorang masih cenderung labil, dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Jenis kelamin penderita AIDS terbanyak adalah laki-laki yaitu 61,6%. 

Permasalahan yang diakibatkan oleh AIDS sejatinya tidak hanya dari sisi medis. Ada permasalahan pada penderita AIDS yang justru memberi dampak lebih parah dan tidak ada obatnya sama sekali yaitu kondisi psikologis penderita dan sikap sosial terhadap penderita. Pada penelitian yang dilakukan oleh Yunie Armiyati, et all, pada tahun 2015, Seorang wanita wiraswasta berusia 44 tahun  penderita AIDS menyatakan bahwa di kalangan masyarakat penyakit AIDS di anggap penyakit yang kotor, sehingga banyak pengidap AIDS yang diberi label “nakal”, penderita takut dicemooh dan dijauhi, padahal tidak semua penderita AIDS adalah penggila seks bebas atau narkoba. AIDS dapat ditularkan dengan mudah melalui cairan tubuh, disadari, maupun tidak disadari. Penderita juga semakin stress psikologisnya begitu mengetahui bahwa ia menderita penyakit AIDS. Karena penyakit ini tidak bisa sembuh, dan khawatir akan sikap masyarakat terhadapnya. 

Dalam menghadapi kasus AIDS ini sangat dipengaurhi oleh peran keluarga dan pemuda. Penulis mengemukakan bahwa ada beberapa hal penting yang merupakan peran keluarga dan pemuda dalam kasus AIDS, terbagi menjadi dua, yaitu pencegahan angka kasus AIDS dan merawat anggota keluarga yang menderita AIDS. Pencegahan angka kasus AIDS seperti yang pertama Edukasi tentang seks dan penyakit menular seksual, dan yang kedua penanaman moral etika dan karakter pada anak. Kemudian merawat anggota keluarga yang menderita AIDS meliputi dukungan secara psikososiospiritual, manajemen terapi nutrisi, dan higienitas lingkungan tempat tinggal.

Lingkungan keluarga adalah tempat pendidikan pertama dalam penanaman karakter dan moral. Seorang penyair Mesir, Hafidh Ibrahim, menyebutkan bahwa ibu adalah madrasah yang pertama bagi anak. Apabila lingkungan keluarga, khususnya orang tua dapat membangun keluarga yang sehat dan harmonis, maka jumlah penderita AIDS akan berkurang. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam keluarga seperti membangun rasa saling percaya, keterbukaan. Orang tua harus memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya, secara moral dan agama, juga ilmu tentang seks. Orang tua tidak bisa hanya mengandalkan sekolah untuk mengajarkan pelajaran agama dan ilmu tentang seks. Kebanyakan orang tua memang tidak tahu bagaimana cara memberikan pendidikan seks usia dini, tetapi pendidikan seks itu bisa di berikan dengan mudah sesuai dengan usia anaknya. Seperti, anak kelas SD di beri pendidikan tentang mengenali jenis kelaminnya, dan erbedaan antara perempuan dan laki-laki. Kemudian saat menginjak SMP, anak diberi edukasi menganai proses pubertas dan proses reproduksi. Bagaimana proses mimpi basah dan haid, bagaimana proses pembuahan dan kehamilan. Kemudian saat anak menginjak pendidikan SMA, anak mulai diajak berbincang mengenai hal-hal yang terjadi sekarang ini, yang berhubungan dengan seksual. Mulai dari kasus perkosaan, pelecehan seksual, seks bebas, penyakit menular seksual, dan akibat-akibat yang di timbulkannya. Pendidikan tentang seks memang harus dilakukan secara bertahap karena hal ini disesuaikan dengan kondisi psikologis anak. Bila ada SD di beri informasi tentang kejahatan seksual, dia bisa merasa takut terhadap lawan jenis. Apabila dia di beritahu tentang pubertas dan proses reproduksi lebih awal, maka akan merasa penasaran dan berusaha mencari tahu lebih lanjut sendiri. Inilah yang kurang aman. Anak bisa mencari tahu ke orang yang salah, maupun melalui internet yang justru lebih banyak sisi negative disana. Hal yang sama bila anak sudah SMA namun tidak diberi edukasi tentang fakta-fakta yang terjadi sekarang ini oleh orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Karki TB pada tahun 2014 membuktikan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan tentang etika, dan pendidikan tentang AIDS termasuk sikap setia terhadap pasangan, bagaimana transmisinya, dan usia pertama kali melakukan hubungan seks.

Peran orang tua disini tidak hanya pada mengurangi dan melindungi pada pemuda dari penyakit AIDS. Karena tidak semua penderita AIDS mendapatkan penyakitnya dari seks bebas dan narkoba, sehingga tidak semua penderita AIDS mendapatkan penyakit ini karena kesalahannya. Berdasarkan Ditjen PP& PI Kemenkes RI 2014, menurut jenis pekerjaan, penderita AIDS terbanyak berasal dari kalangan ibu rumah tangga, yaitu sebanyak 6.539 orang, diikuti wiraswasta dan tenaga non profesional. Peran keluarga juga sangat besar terhadap penerimaan kepada anggota keluarga yaang menderita AIDS. Seperti yang sudah di kemukaan di awal, ada permasalahan yang lebih besar dari pada sisi medis yaitu masalah psikososiospiritual penderita AIDS. Penelitian yang dilakuakn oleh Mekar Duwi Indah Sari dan Elli Nur Hayati, pada tahun 2015, membuktikan bahwa teradapat beberapa faktor yang mempengaruhi regulasi emosi penderita AIDS, berdasarkan pengakuan penderita AIDS yaitu, yang pertama adalah anak. Anak merupakan motivasi subjek untuk tetap bertahan dan melihat anak tumbuh menjadi dewasa. Motivasi ini kemudian mendorong penderita untuk selalu berfikir positif yang akhirnya membuat kemampuan imunitas penderita relatif stabil. Faktor yang kedua adalah keterbukaan diri. Keterbukaan diri mempengaruhi suport yang didapat dari keluarga maupun sosial. Faktor yang ketiga adalah dukungan sosial. Kita dapat melihat disini bahwa sejatinya faktor yang terpenting dan menduduki peringkat pertama adalah faktor anak, atau keluarga.
Untuk menghadapi kasus AIDS tak terlepas dari bagaimana keluarga merawat penderita AIDS dan membantunya menyelesaikan permasalahannya, terutama masalah psikososiospiritual. Penelitian yang dilakukan oleh Yunie Armiyati, et all, 2015 mengemukakan bahwa ada beberapa cara untuk memanajemen permasalahan psikososiospiritual pada penderita AIDS. Yang pertama adalah manajemen psikologis, yang meliputi dukungan sosial, spiritual, dan adaya wadah untuk konseling. Seorang remaja berusia 27 tahun yang menderita AIDS menyatakan bahwa ia dapat kuat dan bertahan dengan penyakit ini atas dukungan keluarganya.. penderita AIDS lainnya yang merupakan seorang wanita berusia 52 tahun juga mengakui bahwa sejak divonis AIDS beliau merasa lebih kuat secara spiritual, rajin beribadah dan berdoa. Manajeman yang kedua adalah manajemen masalah spiritual. Upaya penderita AIDS dalam penelitian ini meliputi peningkatan partisipasi dalam ibadah, fasilitas pelaksanaan ibadah dan keterlibatan keluarga dalam penyediaan perlengkapan. Manajemen yang ketiga adalah manajemen masalah sosial. Ini adalah yang paling susah dilakukan karena melibatkan keluarga dan juga kelompok. Strategi yang daoat dilakukan pasien agar tetap bersosialisasi dengan baik adalah tidak menceritakan permasalahan sakitnya kepada selain keluarga inti. Seorang remaja penderita AIDS yang berusia 27 tahun menyatakan bahwa ia membatasi pergaulan dengan lawan jenis, namun masih menjaga silaturrahin dengan teman lawan jenis melalui media sosial chatting. 

Peran keluarga terhadap kualitas hidup penderita AIDS tidak hanya dari sisi psikoososiospiritual pasien, tetapi juga dari hal-hal lainnya yang dapat mencetuskan semakin parahnya penyakit AIDS ini. Seperti menyediaan nutrisi yang cukup. Penderita AIDS memiliki sistem imunitas yang kurang baik sehingga berat badannya turun secara drastis, dan sukar merasa fit. Dukungan keluarga melalui penyediaan makanan yang sehat dan bersih sangat membantu pasien untuk merasa sehat. Penelitian oleh Rebecca Peixoto Paes Silva, et all, pada tahun 2015 yang dilakukan dengan sampel 20 anak penderita AIDS membuktikan bahwa fungsi malnutrisi memberikan dampak buruk bagi imunitas anak. Terapi nutrisi menggunakan pritokok WHO untuk 20 anak AIDS ini terbukti meningkatkan mekanisme fungsi fagositosis.

Fungsi  imunitas yang rendah mengakibatkan penderita AIDS mudah terkena infeksi, seperti tinea corporis (tumbuhnya jamur pada tubuh), atau infeksi saluran pernapasan seperti pneumonia, bahkan debu dapat mencetuskan reaksi kepada penderita AIDS, sehingga higienitas di lingkungan rumah sangatlah penting. Penderita AIDS juga sebaiknya tidak melakukan pekerjaan yang berat yang berpotensi melukai dirinya seperti mengangkat barang yang besar dan berat. Apabila ia tidak kuat lalu jatuh, maka akan ada luka di kulitnya. Luka inilah yang nantinya akan menjadi port de entry untuk kuman, parasit, jamur, virus, dan patogen lainnya. Keluarga juga harus senantiasa mengingatkan pasien akan jadwal check up, jadwal minum obat dan sebagainya. Tetapi yang perlu di ingat adalah anggota keluarga yang merawat harus mengerti bagaimana transmisi atau penula

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger