Breaking News

17 Apr 2016

Peringati Hari Lahir ke-56, PMII Unila Gelar Diskusi Panel

Berawal dari grass root discussion PMII Komisariat Universitas Lampung yang membahas tentang budaya daerah dan menghasilkan kesimpulan bahwa Bahasa Lampung yang merupakan budaya daerah Provinsi Lampung dapat dikatakan sebagai bentuk kemirisan.

Realitanya, sudah semakin jarang orang Lampung berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya sendiri, terkecuali segelintir masyarakat yang masih terus berupaya melestarikannya.

Berangkat dari keprihatinan itulah, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Unila menjadikan momentum hari lahir (Harlah) PMII yang ke-56 dengan menggelar diskusi tentang “Revitalisasi Bahasa Lampung Sebagai Identitas Daerah” di aula gedung DPD KNPI Lampung, Minggu (17/4).

Acara ini menghadirkan beberapa narasumber yang kompeten, diantaranya Kaprodi Pascasarjana Bahasa Daerah Unila, Dr. Farida Ariyani, jurnalis senior Zulkarnaen, dan Ketua DPD KNPI, Teguh Wibowo. Ketiga pemateri tersebut merupakan alumni PMII Unila.

Dalam penjelasannya, Dr. Farida Ariyani mengatakan bahwa Bahasa Lampung kini keberadaannya semakin ditinggalkan dan digerus oleh bahasa lain.

“Dari survey diketahui bahwa masyarakat yang menggunakan Bahasa Lampung hanya sebesar 11% saja. Sangat berbeda jauh dengan bahasa Indonesia yang mencapai 33%,” katanya.

“Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi dan harus segera dicarikan solusi dan terus dihidupkan. Bahasa Lampung harus kembali digalakkan dan digelorakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga keberadaannya akan menjadi pemenang di negeri sendiri, tidak kalah dengan bahasa yang lain, baik Jawa, Sunda maupun yang lainnya. Kita semua harus berjuang bersama, baik pemerintah daerah maupun masyarakat,” paparnya.

Menurut Farida, bila suatu bahasa daerah sudah terkikis dan punah maka dengan sendirinya akan ikut punah pulalah kebudayaan daerah tersebut.

“Oleh karenanya ini menjadi pekerjaaan rumah buat seluruh elemen dan lap[isan masyarakat agar kedepan Bahasa Lampung tetap eksis, tidak menjadi ironi di negeri sendiri, tapi justru menjadi simbol hidupnya suatu kebudayaan daerah,” katanya.

Senada dengan Farida, Zulkarnaen mengatakan bahwa dewasa ini Bahasa Lampung tengah tertekan eksistensinya oleh bahasa lain. Karenanya dibutuhkan kerja keras dan kerjasama, baik pemerintah daerah maupun masyarakat untuk bersama–sama menjaga serta melestarikan bahasa daerah.

“Apa yang telah dilaksanakan oleh PMII Unila adalah bagian dari upaya menjaga dan melestarikan Bahasa Lampung. Melalui diskusi diharapkan eksistensi bahasa Indonesia dapat terus dijaga dan dipertahankan,” katanya.

Sementara itu Teguh Wibowo mengatakan, budaya dan bahasa adalah merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. Hilangnya bahasa dan budaya maka berperan serta menghilangkan kekayaan Indonesia. “Dalam hal Bahasa Lampung, revitalisasi memanglah diperlukan untuk mempertahankan bahasa kita dari pengaruh globalisasi, maupun dari pengaruh bahasa lain,” ujarnya.

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger