Breaking News

29 Oct 2017

Sarung, Budaya Khas Indonesia



BANDAR LAMPUNG - Ketua Lembaga Pendidikan (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) Kota Bandar Lampung Abdul Azis mengatakan sarung merupakan budaya khas Indonesia. Sarung yang identik dengan orang Islam, kata Azis pada dasarnya karena ada akulturasi antara ajaran dengan budaya setempat. Sarung biasa digunakan di banyak pondok pesantren di Indonesia untuk menutup aurat. "Ajarannya menutup aurat, tapi kan tidak dijelaskan harus menutup menggunakan apa," kata Azis dalam bedah buku Metamorfosis Kaum Sarungan karya M. Iwan Satriawan, di kantor III Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, Sabtu (28/10/2017) siang.

Azis mengatakan agama Islam tidak bersifat kaku. Namun, kata Azis ada beberapa ajaran yang menjadi keharusan. Seperti contoh sholat, di negara manapun, kata Azis sholat wajib pasti lima waktu. Tetapi ketika masuk pada bacaan sholat ada beberapa perbedaan. Ada yang menggunakan bacaan doa qunut saat sholat subuh, ada yang tidak. "Madzhab dalam Islam ada empat," kata Azis.

Lebih lanjut, ia menerangkan ajaran yang bisa di akulturasikan dengan budaya lokal. Sebelum masuk ajaran Islam, wanita bangsawan di Arab bisa memilih dan bersetubuh dengan sepuluh laki-laki pada waktu yang berbeda sebelum menikah. Wanita itu akan memilih laki-laki paling perkasa untuk dijadikan suami. Sebelum menikah, wanita itu dengan laki-laki pilihannya akan di khitbah, atau tunangan.

Azis menambahkan tunangan merupakan budaya lokal Arab. Sebelum Islam datang, sudah ada tunangan. Islam pun memperbolehkan tunangan, tetapi dalam kasus tersebut, hanya bertunangan yang diperbolehkan. "Kalau bersetubuh diluar nikah, ya haram, apalagi dengan lelaki yang berganti-ganti." Kata salah satu pembanding pada acara bedah buku itu.

Sementara pembanding lain, Zulkarnain Zubairi mengatakan sarung tidak identik dengan pondok pesantren dan NU. Tetapi, kata Zulkarnain sarung identik dengan Indonesia. Saat ini kaum sarungan lulusan pesantren pun tidak hanya berkutat di masjid dan tempat ibadah. "Metamorfosis kaum sarungan sudah banyak, ada yang bisa jadi negarawan, ada sastrawan, dan masih banyak," kata alumni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ini.

Pada bedah buku yang digelar oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Hukum Komisariat Universitas Lampung (Unila) ini, Ketua Rayon Hukum Kausar Jumahir Lesen mengatakan bahwa bedah buku Metamorfosis Kaum Sarungan ini dilaksanakan dengan harapan sahabat - sahabat mahasiwa lebih gemar menulis dan menciptakan gagasan - gagasan yang tidak hanya dalam bentuk pemikiran namun tertuang dalam tulisan sehingga penulis akan tetap hidup meskipun raga sudah tidak ada di dunia. Kausar menambahkan kegiatan diskusi dan bedah buku ini juga sangat pas dalam momentum memperingati hari santri nasional dan semoga santri - santri dapat bermetamorfosis dengan sempurna.

Sementara penulis buku M. Iwan Satriawan menjelaskan kata metamorfosis. Kata Iwan, metamorfosis berarti selalu bergerak. Seseorang yang dulu identik memakai sarung kini banyak bergerak ke perubahan perbaikan. "Santri yang suka sarungan tidak hanya bisa membaca kitab kuning, bahkan bisa jadi pemimpin daerah," kata Iwan.

No comments:

Post a Comment

Designed By cara usaha | Powered By Blogger